Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril. Foto: Zoom
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril. Foto: Zoom

Asesmen Pengganti UN Diujikan Satu Tahun Jelang Kelulusan

Pendidikan Ujian Nasional Asesmen Kompetensi Minimum
Ilham Pratama Putra • 08 Juni 2020 12:54
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) beberapa waktu lalu mengganti Ujian Nasional (UN) dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter (AKM) yang rencananya diterapkan tahun depan. Model AKM ini pada tahapan awal akan diujikan di kelas 5, 8, dan 11 atau satu tahun jelang kelulusan siswa.
 
"Kita lakukan AKM awal untuk kelas 5, 8, dan 11 (satu tahun jelang kelulusan) agar bisa meningkatkan kemampuan mereka sebelum lulus," kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril, dalam konferensi video, Senin 8 Juni 2020.
 
Menurutnya, jika dilakukan pada saat siswa akan lulus, maka pihak sekolah akan kewalahan untuk melalukan penguatan. AKM yang dilakukan inipun nantinya akan berguna untuk evaluasi sekolah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi ketahuan apa yang perlu diperkuat di kelas. Hasil ini kan juga diperlukan dinas untuk evaluasi penguatan numerasi, literasi dan karakter tadi," lanjut Iwan.
 
Baca juga:Hasil Asesmen 'Pengganti UN' Ibarat Rapor Sekolah
 
Iwan berharap, AKM ini juga menjadi alat untuk meredam kecurangan pada nilai rapor yang kerap terjadi. Dia menyebut AKM akan lebih baik dalam mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.
 
"Kita akan menghindari praktik yang kurang menguntungkan dari pemberian nilai rapor selama ini. Fokus AKM ini adalah bagaimana dunia pendidikan bisa melihat karakter siswa dalam menentukan nasibnya dengan orientasi berbeda," jelas dia.
 
Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menyebut Ujian Nasional memang sudah tak relevan lagi untuk diterapkan. UN sudah tak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan pendidikan skala Internasional.
 
Menurut Nadiem, hasil AKM bakal lebih menjanjikan. Sebab, AKM juga mampu meningkatkan hasil PISA (Programme for International Student Assesment) atau Program Penilaian Pelajar Internasional.
 
"Itu (PISA) bisa jadi tolok ukur yang dilakukan tiap tahun. Dan lebih akurat karena sudah standar internasional. Jadi kalau butuh tolok ukur yang paling akurat itu PISA," kata Nadiem dalam Konverensi Video, Selasa 24 Maret 2020.
 
Lebih lanjut, Nadiem menegaskan, bahwa UN saat ini hanyalah sebagai alat pemetaan, itu pun tidak lagi optimal. Dia mengaku selama ini tak puas dengan UN yang hanya digunakan sebagai pemetaan pendidikan dengan skala nasional.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif