Sound of Borobudur menyajikan pagelaran orkestra musik yang diiringi oleh ratusan alat musik yang direinterpretasi dari relief Candi Borobudur. Metro TV
Sound of Borobudur menyajikan pagelaran orkestra musik yang diiringi oleh ratusan alat musik yang direinterpretasi dari relief Candi Borobudur. Metro TV

Selamat Pagi Indonesia

Sound of Borobudur, Mereinterpretasi dan Menghidupkan Kembali Alat Musik di Relief Candi

MetroTV • 01 Desember 2021 14:19
Magelang: Gerakan Sound of Borobudur (SOB) hadir sebagai langkah untuk melestarikan nilai seni dalam Candi Borobudur. SOB menyajikan pagelaran orkestra musik yang diiringi oleh ratusan alat musik yang direinterpretasi dari relief Candi Borobudur.
 
Musisi sekaligus inisiator Sound of Borobudur, Tri Utami, menyebut seni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pencapaian peradaban. Relief di dinding Candi Borobudur menceritakan berbagai alat musik yang menarik perhatian dan mendorong SOB untuk membunyikannya kembali.
 
“Ratusan alat musik di dinding Candi Borobudur, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah kami ingin memainkannya kembali,” kata Tri dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Rabu, 1 Desember 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Proses panjang dibutuhkan agar SOB terlaksana. Mulai dari menafsirkan pahatan dua dimensi hingga perlahan merekonstruksi alat musik yang ada di Candi Borobudur.

Jalan tak mudah

Kesulitan utama membuat pahatan jadi kenyataan adalah tidak adanya referensi bunyi dan cara main alat musik tersebut. “Jadi betul betul harus melalui tahapan tahapan yang panjang, sebelum kemudian menciptakan komposisi dari sebuah ketiadaan referensi dari alat alat musik tersebut,” jelas Tri.
 
Setelah melalui proses panjang, SOB melakukan workshop intens untuk menemukan tone dan menciptakan komposisi yang tepat. Hingga saat ini, SOB berhasil menciptakan 12-14 komposisi dan tiga video klip. 
 
“Kami membuat workshop yang sangat intens, sehingga akhirnya kami berhasil sampai saat ini ada sekitar 12-14 komposisi yang sudah direkam, dan ada tiga video klip yang kami buat untuk membuktikan Borobudur bisa dibunyikan kembali,” jelas Tri.
 
Proses tersebut tentu saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tri mengatakan butuh hampir enam tahun untuk menciptakan karya karya tersebut. 
 
Namun, enam tahun juga dikatakan masih terlalu pendek. Mengingat masih ada kemungkinan terkait proses interpretasi yang dapat terjadi.
 
“Kami sadar bahwa enam tahun ini terlalu pendek untuk dikatakan selesai, jadi proses Sound of Borobudur itu masih belum selesai, jadi kami masih terus membuka ruang kemungkinan terhadap interpretasi lain,” ujar Tri.
 
Tri mengatakan ini hanyalah tahap pertama. Namun, Tri berharap hal ini dapat berkontribusi dalam pengetahuan untuk memperkaya khazanah kebudayaan di Indonesia. (Widya Finola Ifani Putri)
 
(SUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif