Kepala Pusdatin Kemendikbudristek Hasan Chabibie. Zoom.
Kepala Pusdatin Kemendikbudristek Hasan Chabibie. Zoom.

Model Pembelajaran Hybrid Dinilai Paling Ideal di 2022

Pendidikan hybrid Pembelajaran Daring Metode Pembelajaran Pembelajaran jarak jauh Pembelajaran Tatap Muka
Ilham Pratama Putra • 26 November 2021 14:48
Jakarta: Dunia pendidikan telah menjalankan dua model pembelajaran di masa pandemi covid-19. Pertama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan bantuan teknologi, kemudian Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.
 
Dua metode itu masih menggantungkan diri kepada teknologi. Terlebih, PTM yang masih bersifat terbatas membuat sebagian pelajar masih berada di rumah untuk mengikuti pembelajaran secara daring.
 
Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hasan Chabibie, mengatakan model pembelajaran yang paling ideal di tahun depan ialah dengan menjalankan hybrid learning. Sebagian siswa berada di sekolah layaknya PTM terbatas, dan sebagian yang lain ada di rumah untuk PJJ.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ke depan pendekatannya yang ideal adalah hybrid learning, ini adalah proses belajar mengajar yang mengombinasikan tatap muka dan pemanfaatan teknologi secara maksimal," kata Hasan dalam taklimat media, Jumat, 26 November 2021.
 
Baca: 44 Guru dan Kepala Sekolah Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Selama Pandemi
 
Dia meyakini warga pendidikan semakin adaptif menggunakan teknologi ketika pandemi. Sehingga, hybrid learning dinilai tak akan terkendala jika diterapkan untuk kelangsungan pembelajaran di masa depan.
 
"Budaya baru yang terbentuk selama proses PJJ kemarin dengan menggunakan tools teknologi yang kita pakai itu bisa dikombinasikan dengan proses belajar tatap muka yang nanti akan dilakukan," tuturnya.
 
Namun, pihaknya mengakui jika tak ada yang bisa menggantikan dampak baik dari PTM. Namun, adopsi teknologi tak pula bisa disingkirkan.
 
"Karena masing-masing memiliki kelebihan, tatap muka memiliki kelebihan dalam proses misalnya pembentukan karakter, bagaimana kita menumbuhkan sifat afektif atau psikomotorik peserta didik," tuturnya.
 
Sementara, digitalisasi bakal memudahkan komunikasi jarak jauh hingga menciptakan kondisi pembelajaran yang variatif. "Nah kombinasi atau hybrid learning itu kami yakin akan bisa semakin meningkatkan kualitas belajar mengajar di kita," tuturnya.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif