Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit (RS) Univeristas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto. Metro TV
Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit (RS) Univeristas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto. Metro TV

Alasan Perlu Vaksin Booster Meski Risiko Terinfeksi Covid-19 Tetap Ada

Renatha Swasty • 10 Februari 2022 16:53
Jakarta: Kasus covid-19 varian Omicron terus melonjak beberapa hari terakhir. Pemerintah mendorong masyarakat segera menerima vaksin booster.
 
Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit (RS) Univeristas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto mengakui mereka yang sudah divaksinasi masih bisa terinfeksi covid-19. Dalam simulasi Tonang, mereka yang bisa terpapar covid-19 meski sudah divaksin mencapai 3 persen secara nasional atau 10 persen untuk kondisi Jakarta.
 
“Maka, menjawab pertanyaan bagi yang telah melakukan vaksinasi booster namun terinfeksi covid-19 kembali, karena ketika divaksin disuntikkan melalui lengan otot kita. Kemudian akan membentuk antibodi di paru-paru. Tetapi, memang dalam membentuk antibodi di saluran napas relatif rendah. Dengan demikian, masih ada risiko untuk terinfeksi covid-19," kata Tonang dikutip dari website uns.ac.id, Kamis, 10 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk itu, kata Tonang, penting mengontrol kesehatan sebagai upaya membatasi virus yang akan masuk ke tubuh. Dia menyebut meski terkena covid-19 kembali, akan mengalami gejala ringan.
 
"Karena sudah kuatnya antibodi yang terbentuk di paru-paru. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa vaksin untuk mencegah gejala bukan mencegah adanya infeksi,” tegas Tonang.
 
Tonang mengimbau mereka yang terpapar covid-19 isolasi mandiri di rumah selama masih tahap gejala ringan dan bisa termonitor Pemerintah Daerah (Pemda). Apalagi, rumah sakit mulai penuh.
 
“Indikasi gejala ringan ialah ketika mengalami tanda-tanda terinfeksi covid-19, segera periksakan, dan nanti akan ditentukan oleh tenaga kesehatan terkait metode isolasinya," tutur dia.
 
Tonang menyebut mereka yang memiliki tanda-tanda terinfeksi juga bisa mendeteksi dengan mengukur kecepatan napas. Kecepatan pada frekuansi di bawah 20 per menit dianggap normal, sedangkan ketika mendekati 25-30 per menit mesti waspada.
 
Masyarakat yang tak terinfeksi covid-19 juga tak perlu khawatir tertular ketika ada tetangga terinfeksi dan isolasi mandiri. “Karena fenomena takut tertular ini terjadi saat pertengahan 2020–2021, tetapi kenyataanya sekarang tidak lagi,” tutur Tonang.
 
Namun, dia menyayangkan masih ditemui masyarakat abai terhadap protokol kesehatan (prokes) dengan dalih membentuk herd immunity. Padahal, ketika ditelisik melalui sudut pandang ilmiah, herd immunity istilah yang sering dipakai dalam bidang peternakan.
 
Dia menyebut pemahaman herd immunity tidak bisa diterapkan untuk manusia. Tonang menjelaskan dengan tidak menaati prokes bukan berarti herd immunity akan terbentuk dengan sendirinya.
 
"Kita harus tetap berhati-hati, karena meski mengalami gejala ringan selalu ada risiko perburukan,” kata Tonang.
 
Tonang mencontohkan masyarakat di kawasan United Kingdom (UK) yang berani melonggarkan prokes. Hal itu lantaran negara memiliki perhitungan jelas akan dampak serta solusi kedepannya.
 
Sementara itu, masyarakat Indonesia yang sudah tervaksinasi dengan lengkap baru 48 persen. Maka, sikap hati-hati dan taat akan prokes sangat perlu.
 
“Dengan percepatan vaksin yang saat ini tengah dilakukan, prokes yang senantiasa dijaga, bukan tidak mungkin kasus terinfeksi covid-19 di Indonesia akan berkurang dan kondisi pandemi segera menghilang,” tutur Tonang.
 
Baca: UNS Kembali Gelar Seleksi Internal KN-MIPA 2022, Simak Tanggal dan Persyaratannya!
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif