Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad Prof. Dr. Ahmad Faried, SpBS(K)., PhD. FICS. Foto: Unpad/Humas
Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad Prof. Dr. Ahmad Faried, SpBS(K)., PhD. FICS. Foto: Unpad/Humas

Butuh 'Ilmuwan Bedah' di Tengah Masifnya Teknologi Pembedahan

Pendidikan Pendidikan Kedokteran Unpad Perguruan Tinggi
Arga sumantri • 11 Juni 2021 09:06
Bandung: Perkembangan ilmu bedah, khususnya ilmu bedah saraf sudah sangat pesat. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Ahmad Faried mengatakan, di tengah perkembangan teknologi pembedahan terkini, dibutuhkan hadirnya 'ilmuwan bedah', bukan dokter bedah biasa.
 
"Yang diperlukan adalah 'ilmuwan-ilmuwan bedah' yang dapat menerapkan ilmu-ilmu dasar serta menjembataninya untuk diaplikasikan secara klinis," ujar Faried mengutip siaran pers Unpad, Jumat, 11 Juni 2021.
 
Faried menyampaikan ini dalam orasi ilmiah berkenaan dengan penerimaan guru besar bidang Ilmu Bedah Saraf pada Fakultas Kedokteran Unpad. Faried membacakan orasi berjudul 'Penerapan Ilmu Dasar dan Aplikasi Klinisnya dalam Menghadapi Era Kedokteran Personal: Tantangan dan Harapan dalam Menciptakan Ilmuwan-Ilmuwan Bedah Saraf'.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sudah saatnya kita yang berada di pusat pendidikan besar seperti Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung, dengan segala keterbatasannya segera berkhidmat untuk merubah paradigma selama ini dari 'dokter bedah' menjadi 'ilmuwan bedah'," ujarnya.
 
Baca: Kualitas Pendidik Harus Sama Majunya dengan Perkembangan Teknologi
 
Faried juga memaparkan mengenai berbagai upaya yang dilakukan dalam mengembangkan terapi sel dan biomarker sebagai investasi 'mengilmuwankan' profesi dari Ilmu Bedah Saraf. Penelitian-penelitian yang dilakukan antara lain mengisolasi neural stem cell (NSCs) dari subvetrikel zone (SVZ).
 
Penelitian tersebut akan merangsang penelitian. Selanjutnya, untuk mengefektifkan pemanfaatan NSCs dalam terapi-terapi alternatif  di bidang bedah saraf.
 
Selain itu, ia dan tim juga merancang obat antikanker generasi baru anti kanker yang disebut 'sugar-cholestanol'. Obat ini dibuat secara sintetik yang sangat spesifik hanya mengenali struktur antigen permukaan sel-sel kanker dan glioma.
 
Faried mengatakan bahwa kedokteran translasional, yang berawal dari pemahaman tentang ilmu dasar serta upaya aplikasinya ke dalam penerapan klinisnya atau sebaliknya, merupakan semangat yang harus diakomodasi pembuat kebijakan. Didukung baik moril dan material, serta dicontohkan oleh locomotive person sebagai leader di unitnya masing-masing.
 
"Jangan 'bunuh' mimpi-mimpi serta semangat yang membara penuh idealisme junior-junior, adik-adik, anak-anak didik kita. Penelitian merupakan jalan yang panjang dan sunyi, penuh halang-rintangan. Menjadi kewajiban kita mengkader serta membimbing penerus kita untuk kemudian membentuknya menjadi ilmuwan tangguh berkecakapan sebagai seorang professional," terang Faried.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif