Ilustrasi sapi. Medcom
Ilustrasi sapi. Medcom

Pakar UGM Jelaskan Penanganan Hewan Terkena PMK dan Hukum untuk Kurban Iduladha

Renatha Swasty • 04 Juli 2022 10:43
Jakarta: Penyakit mulut dan kuku (PMK) mewabah di berbagai daerah di Indonesia sejak akhir April 2022 sampai hari ini. Merebaknya kasus PMK menjadi kekhawatiran di tengah masyarakat.
 
Hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan daging yang dikonsumsi apabila hewan ternak terjangkit PMK. Serta hukum yang sesuai syariat Islam dalam menyembelih hewan kurban yang sakit, khususnya penyakit PMK.
 
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Edi Suryanto, memaparkan cara mengidentifikasi hewan terjangkit PMK. Dia menjelaskan rute infeksi dapat terjadi dengan kontak langsung dan tidak langsung dengan hewan terinfeksi, produk ternak tercemar, atau virus di udara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Semua spesies ternak dapat terinfeksi lewat kulit dan mukosa. Sedangkan, gejalanya ialah demam hingga 41 derajat celsius, luka pada mulut, lidah, lubang hidung, puting, sekitar kuku, hingga kuku bisa lepas, air liur berlebihan, hewan lebih sering berbaring, nafsu makan berkurang, bobot tubuh turun, produksi susu turun drastis, dan sebagainya.
 
“Upaya preventif kita untuk penyebaran PMK adalah melakukan vaksinasi. Selanjutnya, juga bisa dilakukan biosecurity, yaitu implementasi untuk mengurangi penyebaran virus PMK. Yang perlu diperhatikan dalam biosecurity adalah tiga hal, yaitu physical segregation, cleaning, dan disinfection,” papar Edi dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 4 Juli 2022.
 
Dia menyebut penanganan yang tepat untuk hewan terjangkit PMK ialah memasak dagingnya dengan suhu di atas 100 derajat celsius. Edi juga menyampaikan kementerian dan dinas juga sudah memastikan pada masyarakat untuk tidak perlu takut mengonsumsi hewan ternak terindikasi terjangkit PMK.
 
Daging sapi terjangkit PMK aman untuk dikonsumsi asal dengan pendekatan teknis dan prosedur tertentu. Dia menuturkan yang tidak boleh dikonsumsi adalah organ-organ sapi yang terkena PMK, seperti kaki, jeroan, mulut, dan lidah.
 
Edi juga memaparkan cara penanganan, yaitu dengan tidak mencuci daging, tapi langsung dimasak minimal 30 menit. Pencucian dapat menyebarkan virus melalui aliran air dari pencucian daging dan menginfeksi hewan peka di lingkungan.
 
Selanjutnya, daging harus direbus/diungkep dahulu baru disimpan di freezer. Pelayuan daging selama 24 jam dalam kulkas sebelum penyimpanan daging segar membuat pH daging turun sampai di bawah 5,9. Hal ini akan meng-inaktifkan virus.
 
“Pastikan tingkat kematangan daging, saat membeli daging di pasar, pastikan daging berasal dari ternak yang sehat, terapkan pola hidup bersih dan sehat, serta tidak perlu panik, karena virus PMK tidak menular ke manusia,” tutur Edi.
 
Sementara itu, Direktur Halal Research Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, memaparkan hukum dan panduan pelaksanaan ibadah kurban saat kondisi PMK mengacu pada Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022. Poin-poin penting fatwa tersebut, yaitu pertama hewan ternak yang terkena PMK dengan gejala ringan sah untuk kurban.
 
Kedua, hewan ternak yang terkena PMK dengan gejala berat tidak sah untuk kurban. Ketiga, hewan ternak yang terkena PMK dengan gejala berat dan sembuh saat hari Nahr (10 Dzulhijjah) atau Hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah) hukumnya sah untuk kurban. Terakhir, hewan ternak terkena PMK dengan gejala berat, namun belum sembuh saat Hari Nahr/Hari Tasyrik hukumnya tidak sah untuk kurban.
 

Baca juga:Fakultas Kesehatan Hewan UGM Bagikan Rekomendasi Penanggulangan Wabah PMK


 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif