Menristekdikti, Mohamad Nasir, Kemenristekdikti/Humas.
Menristekdikti, Mohamad Nasir, Kemenristekdikti/Humas.

Nasir Sisir Regulasi Penghalang Masuknya Rektor Asing

Pendidikan Pendidikan Tinggi Rektor Asing
Mustholih • 23 Juli 2019 07:07
Semarang: Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir, segera mencabut beberapa peraturan yang menjadi penghalang bagi perguruan tinggi Indonesia mendatangkan rektor asing. Kebijakan itu diambil karena Presiden Joko Widodo berkeinginan rektor asing bisa diberi kesempatan memimpin perguruan tinggi di Indonesia pada 2020.
 
"Saya akan mapping-kan dulu. Saya akan cabut beberapa peraturan dan Pemerintah juga akan sederhanakan. Supaya bisa memberi kesempatan rektor bisa masuk dari luar negeri," kata Nasir, Semarang, Jawa Tengah, Senin, 22 Juli 2019.
 
Menurut Nasir, rektor asing yang bekerja di Indonesia akan digaji oleh pemerintah pusat. "Budget saya bicarakan dengan Menkeu, bagaimana rektor dari luar negeri pendanaannya dari pemerintah pusat. Supaya tidak menggangu keuangan perguruan tinggi," ujar Nasir menegaskan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nasir menyatakan, kehadiran rektor asing bisa mendongkrak kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Sejumlah negara seperti Singapura, Taiwan, dan Tiongkok bisa meningkatkan kualitas perguruan tinggi mereka setelah mendatangkan rektor asing.
 
Baca:Pemerintah Godok Wacana Rekrut Dosen dan Rektor Asing
 
"Bahkan, Arab Saudi, itu (peringkat) 800 saja enggak masuk. Tapi sekarang rektor dari Amerika, dosen 40 persen dari Amerika dan Eropa, sekarang masuk ranking 189," ungkap Nasir.
 
Nasir mengaku kemajuan dan persaingan kualitas perguruan tinggi di dunia sangat mengerikan. Perguruan tinggi Indonesia dinilai tidak punya daya saing di dunia internasional. "Ngeri sekali Indonesia. Saya pelajari Indonesia itu bangga di dalam sendiri tapi tidak punya daya saing di luar negeri," jelas Nasir.
 
Nasir sendiri menegaskan, pernah menggagas rektor asing masuk ke Indonesia pada 2016. Namun, gagasan itu ditolak oleh rektor se-Indonesia. "Saya tawarkan dari 2016, bagaimana mengundang rektor dari luar negeri untuk menjadi rektor di Indonesia. Apa yang terjadi? Saya di-bully habis-habisan, para rektor perguruan tinggi protes kepada saya, dianggap inlander," katanya.
 
Nasir menambahkan Indonesia memiliki 4.700 perguruan tinggi. Ironisnya, dari jumlah itu, hanya tiga perguruan tinggi Indonesia yang punya daya saing internasional. "Perguruan tinggi Indonesia 4.700. Yang masuk daya saing dunia hanya ada tiga . Pada saat saya jadi menteri hanya ada dua, itu pun (peringkat) belakang di angka 400," ungkap Nasir.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif