Tiga mahasiswa UGM yang berinovasi membuat program peningkatan kepatuhan pengobatan antiretroviral (ARV) ODHA.  UGM/Humas.
Tiga mahasiswa UGM yang berinovasi membuat program peningkatan kepatuhan pengobatan antiretroviral (ARV) ODHA. UGM/Humas.

Temuan Mahasiswa UGM Optimalkan Pengobatan HIV/AIDS

Pendidikan Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 12 Juli 2019 16:22
Jakarta: Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat inovasi terbaru untuk program meningkatkan kepatuhan pengobatan antiretroviral (ARV) pada Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). Program tersebut merupakan metode terapi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pada penderita HIV/AIDS.
 
Program ini berfokus untuk meningkatkan aspek psikologis penerimaan diri, perasaan welas asih dan efikasi diri. “Ketiga aspek psikologis ini akan meningkatkan kepatuhan pengobatan pada ODHA,” kata salah satu anggota tim, Isma Syafira Pratama dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Untuk bertahan hidup, pasien HIV perlu minum obat antiretroviral (ARV) setiap hari. Ini akan membantu mengendalikan virus dan memperlambat efeknya pada tubuh selama bertahun-tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa tahun belakangan, penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun di dunia terus meningkat. Jumlah penderita HIV/AIDS. Di Indonesia, jumlahnya diperkirakan mencapai 242.699 orang.
 
Namun hingga kini belum ada obat atau pengobatan khusus untuk menyembuhkan atau menghilangkan virus HIV. Satu-satunya upaya yang dapat dilakukan melalui pengobatan ARV.
 
Isma bersama kedua orang rekannya, Susnanda Virginia Yosian dan Rahadian Rizal Akmal merupakan satu tim dalam inovasi ini. Diakui Isma, untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan ARV banyak menghadapi kendala faktor eksternal. Seperti dukungan keluarga, caregiver (perawat), ketersediaan obat dan lainnya.
 
“Inovasi yang kami berikan dalam penelitian ini yaitu dengan menitikberatkan pada faktor internal ODHA dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan ARV,” ujar Isma.
 
Baca:Mahasiswa UB 'Racik' Kenikir dan Kunyit Jadi Obat Kanker
 
Produk penelitian ini berupa modul terapi ARV dan ODHA yang berisikan terapi mindfulness. Atau peningkatan kualitas kesadaran diri dan tayangan video inspiratif dari role model. Terapi ini, terangnya, akan bisa memunculkan sikap penerimaan diri penderita ODHA.
 
“Modul ini digunakan oleh praktisi dan psikolog sebagai buku panduan dalam memberikan terapi kepada ODHA,” terang Isma.
 
Bentuk terapi ARV dan ODHA ini dilakukan selama empat kali pertemuan. Pertemuan pertama berupa psikoedukasi, ODHA diberikan materi mengenai mindfulness dan latihan pernafasan.
 
Lalu pada pertemuan kedua, peserta diajarkan mengenal kesadaran seperti kesadaran pernafasan, pikiran dan deteksi tubuh melalui meditasi. “Pertemuan ketiga berupa kesadaran mencintai diri sendiri yang mengajarkan ODHA menerima keadaan dirinya, mencintai diri sendiri dan orang lain melalui meditasi cinta kasih,” papar Isma.
 
Selanjutnya, pada pertemuan keempat diberikan tayangan video inspiratif berupa role model yang sudah memiliki kepatuhan tinggi dalam pengobatan ARV dan sukses menjalani kehidupannya. “Setelah itu peserta diberikan meditasi compassionate ideal. Selain itu, ODHA juga diminta mempraktikkan meditasi secara mandiri yang ditugaskan dan dipantau melalui buku harian,” ujarnya.
 
Isma menuturkan, inovasi yang mereka lakukan sejalan dengan program pemerintah program kesehatan Three Zeroes, yakni zero new HIV infection, zero AIDS related death dan zero discrimination yang dicanangkan oleh Kemenkes. Ia berharap program ARV dan ODHA ini dapat membantu upaya pemerintah dalam program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia sehingga angka kematian akibat HIV/AIDS dapat berkurang.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif