Mengenal Penanggalan Imlek
Suasana Pasar Semawis Kota Semarang, Jateng, di malam perayaan Tahun Baru Imlek, Kamis 16 Februari 2018, Medcom.id - Budi Arista Romadhoni
Manado: Selain berdasarkan sejarah, penanggalan tahun baru Imlek juga berdasar pada peristiwa-peristiwa alam. Secara bahasa, Imlek merupakan penanggalan dari bangsa Tiongkok bagian tengah dan timur yang mayoritas bersuku Han. 

"Kata Imlek berasal dari dialek Hokkian. "Im" artinya bulan, "Lek" artinya penanggalan, atau dalam bahasa mandarinnya “yin li” yang berarti kalender bulan," kata Fery Sondakh pemerhati sejarah di Manado.


Menurutnya, penanggalan Imlek didasarkan pada gabungan perhitungan peredaran bulan (lunar system) dan peredaran bumi mengelilingi matahari (solar system). Kalender selalu digunakan sebagai penanda untuk merayakan suatu kejadian besar yang terjadi di alam semesta seperti perubahan musim, awal musim tanam dan lain-lain.

Penanggalan lunar juga mengenal istilah winter solstice yaitu posisi matahari terjauh dari khatulistiwa baik utara atau selatan dan "equinox" yaitu posisi matahari tepat di khatulistiwa. 

"Jadi meskipun penanggalan imlek berdasarkan pada peredaran bulan, namun karena parameter equinox (kondisi di mana siang dan malam memiliki periode yang sama panjang) dan solstice (titik balik matahari atau memasuki musim dingin) maka kalender Imlek selalu tidak jauh beriring dengan penanggalan Masehi. Dalam penanggalan Imlek penggenapan jumlah hari dalam setahun dengan istilan “lun”," terang Sondakh.

Sebagai contoh nyata, kata dia, dari perayaan Tahun Baru Imlek selalu jatuh di bulan Januari atau Februari. Hal ini berbeda dengan penanggalan hijriah yang hanya berdasarkan pada peredaran bulan saja, sehingga tidak beriringan dengan penanggalan masehi.

Namun kata dia, ada persamaan antara penanggalan Imlek dengan penaggalan Hijriah bagi bangsa-bangsa Arab dan penanggalan Masehi bagi bangsa-bangsa Eropa. Di mana, penanggalan tersebut tidak dihasilkan dari suatu eksperimen atau penemuan dari seseorang atau sekelompok ilmuan.

"Namun dihasilkan dari pengamatan, pencatatan, pembahasan dan penyempurnaan-penyempurnaan yang berlangsung selama berabad-abad sebelumnya, berdasarkan pada kondisi geografis, pola atau cara hidup, kebutuhan hidup, peradaban dan kebudayaan dari kelompok masyarakat tersebut," jelas Sondakh.

Dengan demikian, lanjutnya, maka penanggalan apapun yang ada saat ini merupakan pemanfaatan fenomena-fenomena alam semesta sebagai wujud ciptaan Tuhan Yang Maha Esa untuk digunakan dalam kepentingan kehidupan umat manusia. 



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id