Organisasi Ekstra Diusulkan Kembali Masuk Kampus

Kurangi Dominasi Organisasi Islam "Kanan" di Kampus

05 Juni 2018 19:56 WIB
Radikalisme di Kampus
Kurangi Dominasi Organisasi Islam Kanan di Kampus
Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra. Foto: MI / Arya Manggala
Jakarta: Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra dalam cuitannya di Twitter melempar wacana untuk mengembalikan kegiatan organisasi ekstra mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke dalam kampus.

Dalam cuitan tersebut, Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta ini beralasan perlunya organisasi tersebut dikembalikan ke dalam kampus untuk mengurangi dominasi organisasi Islam "kanan".  "kembalikan organisasi ekstra mahasiswa spt HMI, PMII, dan IMM ke dalam kampus, sehingga mengurangi dominasi organisasi Islam 'kanan'" ungkap Azyumardi seperti dikutip dari akun Twitternya @Prof_Azyumardi.


Menanggapi isi cuitan tersebut, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir secara tegas menolak masuknya kembali kegiatan organisasi ekstra seperti HMI, PMII, dan IMM ke dalam kampus.  

"Tidak akan dihidupkan kembali, nanti kampus malah jadi wahana politik lagi.  Padahal kita ingin kampus siap untuk persaingan global," tegas Nasir.

Nasir menyampaikan, munculnya terorisme dan radikalisme di kampus masih mungkin terjadi di kampus lain. Untuk itu pihaknya saat ini lebih fokus pada upaya preventif atau pencegahan.

"Laras panjang, atau laras pendek bagi saya bukan urusan itu, yang menggangu keamanan, kami persilakan (aparat) untuk masuk," tegas Nasir.

Senada dengan Nasir, Dirjen Pembelajaran dan Mahasiswa, Kemenristekdikti, Intan Ahmad mengatakan jika ada organisasi luar masuk kembali ke dalam kampus dapat memunculkan pertanyaan baru. Intan juga sangsi bahwa cara tersebut efektif untuk menekan penyebaran radikalisme di kampus.

"Soalnya pembawa paham agama radikal itu juga masuk ke kampus tanpa embel-embelorganisasi. Jadi infiltrasi mencair, dengan logika yang sama juga bisa dilakukan oleh organisasi ekstra," terang Intan.

Sebelumnya, Menristekdikti, Mohamad Nasir menyebutkan, bibit-bibit radikalisme di kalangan mahasiswa,  muncul dari kegiatan ekstra kampus yang gencar dimulai sejak 1983.  Kegiatan ekstra kampus ini muncul imbas kebijakan normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK) tahun 1983 di era orde baru.

Pemahaman-pemahaman dan ajaran-ajaran radikal dikembangkan dari kegiatan-kegiatan di luar kampus. Setelah lulus mereka menjadi dosen, guru dan menyebarkan lagi paham radikalnya.  
Akibat normalisasi kehidupan kampus itu, kata Nasir, kegiatan mahasiswa menjadi sulit terpantau. Muncul kegiatan-kegiatan yang bersifat homogen yang tidak terpantau rektor.





 



(CEU)