Kisah Relawan Tenaga Didik di Sukma Bangsa

Sang Lentera bagi "Masa Depan Aceh"

Husen Miftahudin 11 Mei 2018 16:55 WIB
Yayasan Sukma Bangsa
Sang Lentera bagi Masa Depan Aceh
Ratna Sari Dewi, Relawan tenaga didik pascabencana di Sekolah Sukma Bangsa (SSB) Aceh. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin

Pidie:Ratna Sari Dewi, 38 tahun, tak butuh waktu lama untuk memutuskan kesediaannya menjadi relawan tenaga pendidik pascabencana bagi anak-anak korban tsunami dan konflik Aceh yang bersekolah di Sekolah Sukma Bangsa (SSB).  Paling pertama ada di benaknya, adalah menyelamatkan anak-anak, masa depan Aceh yang tersisa kala itu. 

Sebuah kisah kondang dari Jepang mengingatkan kita tentang betapa penting dan strategisnya keberadaan seorang pendidik bagi sebuah bangsa.  Bahkan dalam keadaan terpuruk seperti jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki Agustus 1945 silam. 


Kaisar Hirohito dalam kepanikan pasca pengeboman kala itu, sangat mencemaskan jumlah guru yang masih hidup.  Guru,  bukan tentara, apalagi mengkhawatirkan berapa bangunan megah yang tersisa.  Terbukti, menyelamatkan guru sama dengan menyelamatkan masa depan sebuah bangsa.  Kini Jepang tak hanya sekadar bangkit, namun juga mampu menjadi salah satu negara maju di Asia, bahkan dunia.

Hal serupa terjadi di Aceh, bedanya negeri Serambi Mekkah ini luluh lantak diterjang bencana tsunami Desember 2004 silam, juga konflik Aceh.  Konflik dan tsunami yang menghantam Aceh tak sepenuhnya menelan korban jiwa.  Alam masih menyisakan sejumlah warga yang berhasil selamat, termasuk di antaranya anak-anak.

Kondisi inilah yang menggugah Yayasan Sukma Bangsa berinisiatif untuk membangun tiga sekolah di Pidie, Bireun, dan Lhokseumawe. Sebuah tindakan nyata yang meyakini, bahwa Aceh masih memiliki masa depan, dan harapan bersama warga, terutama anak-anak yang tersisa.

Berbuat sesuatu untuk Aceh melalui sentuhan pendidikan, kemudian melatarbelakangi diresmikannya Sekolah Sukma Bangsa pada 14 Juli 2006.  Sekolah itu menampung 348 siswa korban konflik, bencana, serta siswa tidak mampu pada angkatan pertama yang tersebar di setiap satuan jenjang pendidikan baik SD, SMP, maupun SMA.

Lantaran keterbatasan tenaga pengajar di awal pendirian sekolah itulah,  para relawan bencana tsunami Aceh akhhirnya diminta bantuan untuk menjadi pendidik di SSB

Ratna Sari Dewi, adalah salah satunya.  Ia mendedikasikan diri untuk menyelamatkan anak-anak korban konflik dan bencana dari putus sekolah waktu itu.  Ratna merupakan relawan tenaga didik pascabencana tsunami yang tak butuh waktu lama untuk memutuskan kesediaanya membantu pendidikan bagi anak-anak korban bencana dan konflik tersebut.

"Saya tertarik mengajar di sekolah ini karena sekolah ini ditujukan untuk anak-anak korban tsunami. Sekolahnya yang ada di Pidie, Bireun, dan Lhokseumawe ini juga bukan hanya fokus untuk anak-anak korban tsunami saja, tapi juga anak-anak korban konflik yang menurut saya psikologis mereka butuh dibantu," ujar Ratna saat berbincang di SSB Pidie di Gampoeng Pineueng, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh.

Awalnya Ratna ditempatkan di SSB Pidie. Tak lama kemudian Ia ditempatkan di SSB Lhokseumawe hingga 2014. Di tahun itu pula Ratna berkesempatan mengajar di SSB Pidie hingga saat ini.

"Di Lhokseumawe,  saya banyak sekali pengalaman bersama anak-anak. Mulai dari anak-anak yang enggak punya ibu, ada juga anak-anak dari masyarakat umum. Kita bisa melihat motivasi belajar mereka, bagaimana mereka mencoba untuk belajar," beber kelahiran 16 April 1980 ini.

Pada 2015, Ratna mendapat kesempatan untuk mendalami ilmu keguruannya di Finland University.  Yayasan Sukma memberi program beasiswa kepadanya untuk meraih gelar master di bidang pendidikan dari University of Tampere, Finlandia.

Perjalanan 12 tahun, Ratna telah menjadi penerang dan pengiring langkah para siswa untuk meraih asa masa depan mereka. Suka duka dilaluinya. Bagi dia, pendidikan merupakan hal utama yang harus diberikan kepada anak-anak. 

"Anak-anak pada awal masuk, itu mereka santai belajarnya, mereka tidak punya motivasi yang bagus untuk belajar," jelas Ratna.

Tapi karena para relawan membangun hubungan dekat dengan mereka, akhirnya mampu menumbuhkan semangat belajar mereka.  "Kalau kita dekat sama mereka, kita teman bagi mereka, mereka akan membuktikan bahwa mereka bisa," tegasnya.

Kini Ratna semakin bangga menjadi bagian dari SSB. Menurutnya, sekolah yang sepenuh dananya dibiayai Media Group ini telah berhasil membawa harapan bagi masa depan Aceh melalui anak-anak yang hampir kehilangan segalanya karena konflik dan bencana.

"Yang membuat saya berkesan itu adalah masyarakat sangat antusias sekali bergabung bersama kita, karena kita sekolah yang memang mengedepankan proses dan mengedepankan kejujuran. Itu yang menjadi ikon bagi sekolah kita," ungkap dia.






(CEU)