Ajeng mengatakan dirinya menjalani pendidikan sebagai taruna selama empat tahun. Setelah itu, pendidikan dilanjutkan dengan Sekolah Penerbang selama sekitar satu setengah tahun.
"Perjalanan pendidikan dari mulai Taruna 4 tahun, kemudian dilanjutkan Sekolah Penerbang satu setengah tahun, itu kan bukan waktu yang pendek," ujar Ajeng dalam program QnA Metro TV dikutip Rabu 26 Agustus 2026.
| Baca juga:
|
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses sebelum seorang penerbang menjalankan tugasnya. Namun dibalik perjalanan studinya, Ajeng sebenarnya tidak pernah merencanakan menjadi pilot.
Keinginan menjadi tentara muncul ketika ia duduk di bangku SMA setelah mengikuti Paskibraka Nasional. Pengalaman tersebut membuat Ajeng mengenal pendidikan semi-militer.
Setelah masuk TNI AU dan diproyeksikan menjadi penerbang, ketertarikannya terhadap dunia penerbangan pun tumbuh. Setelah menyelesaikan pendidikan, perjalanan seorang penerbang belum berhenti.
Pengalaman dan jam terbang menjadi bagian penting untuk membangun kualifikasi seorang pilot. Letda (PNB) Gini Setya Rahayu, penerbang Hercules berusia 25 tahun, mengatakan dirinya kini telah memiliki sekitar 350 jam terbang.
"Kalau semisal untuk jam terbang sampai saat ini saya sudah 350 jam terbang," kata Gini.
Namun, untuk penerbangan VIP terdapat kualifikasi tertentu dalam satu setting kru. Menurut Gini, harus ada personel yang telah mencapai kualifikasi instruktur dengan jam terbang yang jauh lebih tinggi.
"Kualifikasinya sudah sampai ribuan jam terbang dan ada Kapten Pilotnya juga baru didampingi oleh Kopilot," jelasnya.
| Baca juga: Lulusan Poltekpin Langsung Jadi PNS! Ini Gelar dan Prospek Kariernya |
Hal tersebut menunjukkan pengalaman terbang menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan seorang penerbang. Bagi Ajeng, proses pendidikan dan pengalaman sebagai perwira juga membentuk kemampuan lain yang dibutuhkan dalam menjalankan profesi.
Ia menyebut koordinasi dan leadership menjadi beberapa pelajaran penting yang didapat selama perjalanan kariernya. Menurut Ajeng, teori kepemimpinan memang dapat dipelajari, namun, penerapannya akan terasa ketika seorang pilot harus memimpin kru dan mengelola penerbangan.
Sementara itu, Gini mengaku mendapatkan pelajaran mengenai disiplin dan tanggung jawab setelah masuk ke dunia militer. Dengan demikian, perjalanan menjadi penerbang TNI AU bukan hanya tentang menyelesaikan pendidikan penerbangan.
"Jadi semuanya butuh proses yang menuntut pengalaman, jam terbang, disiplin, kepemimpinan dan tanggung jawab yang terus dibangun sepanjang karier," tutup Gini.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda