Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami.  Foto:  Zoom
Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami. Foto: Zoom

Konsekuensi Literasi Rendah, Biaya Pendidikan Bakal Lebih Mahal

Pendidikan perpustakaan kemampuan literasi Biaya Pendidikan Literasi
Citra Larasati • 23 Maret 2021 13:13
Jakarta:  Ketersinggungan antara literasi, pendidikan, dan kebudayaan dalam melahirkan masyarakat berpengetahuan (knowledge society) sangat erat.  Sebab tingkat literasi masyarakat yang rendah akan memiliki banyak konsekuensi, salah satunya menyebabkan tingginya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan.
 
Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Amich Alhumami mengatakan, literasi tidak bisa dilepaskan dari dua agenda strategis, yakni kebudayaan dan sumber daya manusia.  Hal ini yang membuat literasi erat dengan pendidikan dan kebudayaan.
 
Menurut Amich, pendidikan adalah mula bagaimana mengubah arah kehidupan. Dengan membangun pendidikan yang baik literasi dapat meningkat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:  Tingkatkan Layanan Pendidikan, Jajaran Kemendikbud Diberi Pelatihan Kepemimpinan
 
"Sebaliknya dengan literasi yang rendah justru bisa dipastikan akan menimbulkan konsekuensi lain yang lebih memakan biaya dan menyita waktu. Maka, penting membekali anak dengan keterampilan baca, khususnya di rentang usia 8-10 tahun,” ujar Amich, pada Rakornas Bidang Perpustakaan 2021, Selasa, 23 Maret 2021.
 
Lebih jauh Amich menjabarkan, konsekuensi yang dirasakan ketika literasi rendah:
 
1.  Biaya pendidikan lebih mahal
2.  Tidak produktif ketika memasuki dunia kerja
3.  Pendapatan rendah yang berimbas pada kesejahteraan
4.  Ongkos kesehatan menjadi mahal
5.  Angka kriminalitas meningkat
 
Amich menerangkan, negara dengan proporsi penduduk yang bekerja sangat besar di berbagai lapangan dan jenis pekerjaan justru mensyaratkan kemampuan baca yang tinggi.  Salah satunya  karena pekerja tersebut akan cenderung lebih produktif.
 
Terlebih di era di mana teknologi berperan penting dalam perekonomian.  Nyaris dipastikan semua memerlukan kemampuan analisis dan keterampilan komunikasi, sehingga kualitas antara produktivitas tinggi dan kemampuan membaca di tempat kerja merupakan hal yang lumrah.
 
“Sebaliknya di negara yang belum menjadikan keterampilan membaca sebagai ukuran kinerja di tempat kerja cenderung kurang produktif atau produktivitasnya rendah,” tambah Amich.
 
Menurut data Global Knowledge Indeks 2020 yang dirilis Bappenas, diketahui bahwa Indonesia menempati peringkat ke-81 dari 138 negara, dan peringkat ke-23 dari 36 negara dengan pembangunan manusia yang tinggi. Sedangkan, di lingkup ASEAN, Indonesia malah berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
 
“Perlu perbaikan serius untuk mengatasi disparitas yang mencakup aspek ekonomi, pendidikan, teknologi, riset ilmiah, dan vokasi. Dengan kata lain, Indonesia masih perlu melakukan upaya peningkatan kapasitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai strategi, program, dan kegiatan yang tepat,” pungkas Amich.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif