Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani
Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani

Sosiolog Unair: Jangan Hanya Dilarang Mudik, Tapi Beri Alternatif

Pendidikan Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi UNAIR Idulfitri 2021
Ilham Pratama Putra • 14 Mei 2021 18:17
Jakarta:  Pemerintah mengeluarkan aturan larangan mudik dari tanggal 6 hingga 17 Mei 2021. Upaya penyekatan di berbagai titik juga dilakukan untuk membatasi pergerakan masyarakat untuk pulang kampung merayakan Idulfitri 2021.
 
Sosiolog Universitas Airlangga (UNAIR), Bagong Suyatno menyebut, larangan mudik tersebut sangat wajar ditentang masyarakat. Sebab larangan pada saat ini, kata dia, justru serupa pancingan bagi masyarakat untuk melanggar.
 
“Orang tentu rela mengeluarkan uang dan bercapek-capek untuk bisa mudik. Karena, reward sosialnya itu orang dapat merasakan langsung,” Bagong dalam siaran pers Unair, dikutip pada Jumat, 14 Mei 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Artinya, di saat masyarakat berhasil mudik, maka itu merupakan pencapaian atau reward baginya. Tapi pemerintah, kata dia, memang sudah seharusnya mengeluarkan larangan tersebut guna menekan penularan covid-19.
 
Namun, larangan mudik saat ini bukan perihal membatalkan kegiatan mudik oleh masyarakat. Pemerintah harus mampu membantu mencari alternatif mudik bagi masyarakat.
 
Baca juga:  Epidemiolog UNAIR Beri 6 Tips Lebaran Aman di Tengah Pandemi
 
Misalnya dengan mencari alternatif atau bentuk lain dari mudik yang bisa dilakukan masyarakat. Hal itu guna pengganti ritual mudik berpergian, agar tak ada pertemuan secara langsung.
 
“Sebagai pengganti mudik, masyarakat bisa menyiasatinya dengan mudik melalui teknologi, seperti keliling di grup-grup Whatsapp, telepon, atau bahkan video call,” tegas Bagong.
 
Mudik sendiri merupakan sebuah tradisi setahun sekali yang telah mengakar di Indonesia. Dengan diberlakukannya larangan mudik, pelanggar aturan tidak boleh dinilai sebagai pelanggar hukum, tapi lebih dipahami sebagai resistensi.
 
“Saya lebih setuju bahwa itu dipahami sebagai bentuk resistensi masyarakat. Bukan dinilai sebagai pelanggar hukum, lalu disanksi. Mudik akan membunuh orang tuamu, slogan dari kampanye Pak Doni itu betul. Sekarang, tinggal masing-masing dari pribadi masyarakat Indonesia saja apa mereka ingin membahayakan atau tidak, toh mereka sudah tahu risikonya," pungkas Bagong. 

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif