Kebesaran dan daya tahan gerakan yang didirikan oleh Kyai Ahmad Dahlan ini terletak pada satu hal fundamental yaitu kokohnya prinsip, kepribadian, dan khittah yang dijaga dengan setia.
Melansir pesan mendalam dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, serta sari pati pemikiran para tokoh persyarikatan, berikut adalah panduan ideologis yang wajib dipahami oleh setiap kader dan simpatisan.
Muhammadiyah adalah Persyarikatan
Salah satu kekuatan utama Muhammadiyah adalah gerakannya yang tersistem. Sebagaimana termaktub dalam Muqaddimah AD Muhammadiyah poin keenam, perjuangan mewujudkan cita-cita Islam hanya dapat dilakukan melalui organisasi.Muhammadiyah bukanlah kerumunan sosial yang bergerak tanpa arah, melainkan sebuah persyarikatan yang menuntut pandangan kolektif. Dalam menghadapi tantangan lokal maupun global, setiap anggota dan pimpinan dilarang bergerak secara perorangan atau membawa agenda pribadi. Segala tindakan harus melalui sistem organisasi yang solid agar marwah gerakan tetap terjaga.
Empat Prinsip Dasar dalam Beragama
Dalam menjalankan dakwah yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah al-Maqbulah, Muhammadiyah memegang teguh empat prinsip moderasi:Toleran (Tasamuh): Muhammadiyah tidak dalam kapasitas menghakimi kelompok lain. Keputusan Majelis Tarjih adalah pedoman internal bagi warga Persyarikatan, tanpa tendensi memaksakannya kepada pihak lain.
Independensi Mazhab: Muhammadiyah tidak berafiliasi pada mazhab fikih atau kalam tertentu. Ijtihad dilakukan dengan merujuk langsung pada sumber murni Islam, namun tetap menghargai pandangan para fukaha terdahulu sebagai khazanah intelektual.
Keterbukaan: Sebagai gerakan berkemajuan, Muhammadiyah tidak alergi terhadap kritik. Masukan diterima dengan lapang dada sebagai sarana evaluasi diri.
Menghargai Keragaman: Muhammadiyah mengakui adanya keragaman (tanawwu’) dalam tata cara ibadah dan tidak mengingkari perbedaan tersebut selama memiliki landasan yang kuat.
Menjaga Jarak dari Politik Praktis
Haedar Nashir secara tegas mengingatkan agar warga dan elit Muhammadiyah tidak terbawa arus politik praktis. Meskipun sebuah gerakan dibungkus dengan isu kebangsaan, keagamaan, bahkan pesan amar ma’ruf nahi munkar, jika muaranya adalah politik kekuasaan, maka hal itu berada di luar koridor Muhammadiyah.
Muhammadiyah memiliki cara sendiri dalam menyikapi persoalan bangsa, yakni melalui jalur kemasyarakatan yang non-politik praktis. Pendekatan yang digunakan adalah nalar Bayani (teks), Burhani (rasio/konteks), dan Irfani (rasa/intuisi) yang terintegrasi.
Ber-Muhammadiyah dengan Pedoman yang Kokoh
Setiap langkah amar ma’ruf nahi munkar harus didasarkan pada prinsip musyawarah dan cara yang sejalan dengan Kepribadian serta Khittah. Kader dilarang menggunakan tolak ukur sendiri atas nama besar Muhammadiyah ke dalam kancah pergerakan politik yang bertentangan dengan haluan organisasi.
Memahami ideologi Muhammadiyah adalah prasyarat mutlak sebelum seseorang menyatakan diri siap login menjadi warga Muhammadiyah. Dengan memedomani Matan Keyakinan, Kepribadian, dan Khittah, kita memastikan bahwa kapal besar ini tetap berlayar menuju cita-cita terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, tanpa kehilangan arah di tengah badai perubahan zaman.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News