Mendikdasmen, Abdul Mu'ti di Bedah Buku Abdul Somad. Foto: BKHM
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti di Bedah Buku Abdul Somad. Foto: BKHM

Mendikdasmen di Bedah Buku Ustaz Abdul Somad: Jabatan Ada Batasnya, Pemimpin Harus Berhati-hati

Citra Larasati • 27 Februari 2026 17:57
Ringkasnya gini..
  • Acara bedah buku Ustaz Abdul Somad di masjid, dihadiri Mendikdasmen.
  • Isi buku tentang kematian, kisah orang saleh, dan khususnya kisah wafat Rasulullah.
  • Mendikdasmen memberikan perspektif tentang kepemimpinan, mengutip kisah Amru bin Ash, dan pesan agar berhati-hati dalam memimpin.
Jakarta: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menghadiri acara Bedah Buku "35 Kisah Saat Maut Menjemput" karya Ustaz Abdul Somad yang digelar di Masjid Kemendikdasmen.  Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi keagamaan sekaligus membangun suasana kerja yang lebih religius.
 
Dalam sambutannya, Abdul Mu'ti menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ustaz Abdul Somad yang berkenan membedah buku terbarunya. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala.
 
"Ada benda buku Ustaz Abdul Somad yang tadi sudah kita ikuti bersama-sama. Ini juga bagian dari upaya kita bersama untuk meningkatkan literasi, sosial literasi keagamaan dengan masjid sebagai sarananya. Ya, kami berharap agar kegiatan seperti ini nanti bisa terus kita laksanakan secara berkala," ujar Abdul Mu'ti usai acara tersebut, di Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026.

Ia menambahkan, ,kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian bertujuan agar seluruh insan pendidikan bekerja dengan penuh tanggung jawab dan integritas.
 
"Dan ini menjadi bagian dari usaha kami di kemudian agar suasana kerja, suasana kantor lebih religius. Yang religius itu mudah-mudahan berimplikasi langsung terhadap kesalahan seluruh insan pendidikan," kata Mu'ti.
 
Sehingga, kata Mu'ti para pegawai ASN dapat bekerja dengan sebaik-baiknya, bekerja sebagai bagian dari beribadah dan memiliki integritas. "Agar mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab, menjauhkan diri dari semua hal yang bertentangan dengan hukum, terutama adalah menjauhkan diri dari perilaku dan jembatan korupsi serta tindakan yang lain-lainnya," tegasnya.

Buku yang Mengingatkan tentang Kematian

Mu'ti menyampaikan kesannya terhadap buku yang ditulis Ustaz Abdul Somad. Ia mengaku buku tersebut sangat inspiratif karena mengingatkan tentang kematian.
 
"Ya saya kira buku ini sangat inspiratif ya, inspiratif karena juga mengingatkan kita akan kematian ya. Dan kematian itu kalau kita baca hadis nabi kan nasihat ya, Kafa bil mauti wa’izhan, cukup lah kematian itu menjadi nasihat," terang Mu'ti.
 
Menurut Mu'ti, di dalam buku itu berisi nasihat tentang kisah-kisah bagaimana orang-orang saleh itu wafat, dan terutama yang paling panjang ditulis di buku itu adalah kisah bagaimana Rasulullah menjelang wafat. "Yang itu memang mengingatkan kita semua bahwa kehidupan kita ini ada batasnya, kematian bisa datang kapan saja," ungkapnya.
 
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini menegaskan, kesadaran akan kematian harus mendorong setiap orang untuk senantiasa berbuat terbaik selama hidup. "Dan karena itu maka kita tidak hanya semuanya menyadari selama hayat di dalam badan, senantiasa berbuat yang terbaik, yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat, umat dan bangsa," imbuhnya.

Pelajaran dari Sejarah: Kisah Amru bin Ash

Saat ditanya lebih lanjut tentang pesan kepemimpinan yang bisa dipetik dari buku tersebut, Abdul Mu'ti mengaitkannya dengan kisah sahabat nabi, Amru bin Ash, yang sempat ia singgung dalam pengantarnya.
 
"Saya kira yang beliau sampaikan tadi sangat penting ya, bagaimana agar beliau mengingatkan bahwa sehebat apapun seseorang itu ada batasnya ya. Tadi saya juga kutip di pengantar saya tentang sosok namanya Amru bin Ash, Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, dan juga sudah jadi gubernur Mesir pada masa Utsman bin Affan ya," ceritanya.
 
Ia menceritakan episode ketika terjadi dualisme kepemimpinan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Saat itu, Amru bin Ash disebut sebagai aktor intelektual yang membuat peristiwa tersebut menjadi catatan sejarah yang masih terasa hingga kini.
 
"Karena ketika itu kan tadi saya sampaikan juga disepakati bahwa agar ada ya situasi yang lebih baik, Ali maupun Muawiyah mengundurkan diri. Dan kemudian Ali diwakili Musa Al-Asy'ari sebagai juru bicara, dan Musa Al-Asy'ari seorang sahabat nabi yang lurus itu ya mengundurkan diri, menyampaikan pidato pengunduran dirinya Ali bin Abi Thalib. Amru bin Ash yang seharusnya menyampaikan pidato Muawiyah mengundurkan diri, malah dia mengangkat Amru bin Ash, yang itu kemudian menjadi bagian dari catatan sejarah yang ya sekali lagi sisa-sisanya masih ada sampai sekarang," paparnya.
 
Mendikdasmen menekankan, kisah tersebut mengajarkan bahwa jabatan dan kehidupan ada batasnya, sehingga seorang pemimpin harus berhati-hati.
 
"Dan ketika dia juga menyadari semua yang dilakukan itu kan, dia sadar bahwa semua ya kepemimpinan jabatan itu ada batasnya, hidup ini ada akhirnya, dan seorang yang sekuat apapun pada akhirnya juga akan kembali ke hadirat Allah SWT. Nah inilah yang saya kira bisa kita pelajari, karena itu maka ya buku ini mengajarkan kita termasuk saya juga agar senantiasa berhati-hati dalam memimpin, sehingga kita ya tidak salah dalam memimpin dan tidak menyalahi berbagai aturan yang berlaku," ujarnya.
 
Acara bedah buku ini dihadiri oleh jajaran pegawai kementerian, pengurus masjid, serta sejumlah undangan lainnya. Ustaz Abdul Somad dalam pemaparannya mengajak hadirin untuk merenungi kisah-kisah menjelang kematian sebagai pengingat agar selalu istiqamah di jalan kebaikan.
 
Baca juga:  Bukan si Paling Sakti, Ternyata Paspor Hitam Inggris Kalah Gahar Sama Negara-Negara Ini


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan