Terkait itu, Prabowo menunjuk Arrmanatha Christiawan Nasir sebagai Menteri Luar Negeri. Sebelumnya, Arrmanatha merupakan Wakil Menteri Luar Negeri mendampingi Sugiono.
Pelantikan Arrmanatha digelar di Istana Negara pada Kamis, 1 Oktober 2026. Sugiono sendiri kini menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) menggantikan Pratikno.
Arrmanatha atau biasa disapa Tata merupakan seorang diplomat. Dia bekerja di Kementerian Luar Negeri sejak 1997.
Yuk kenalan lebih dalam dengan Arrmanatha Nasir, berikut ini profil, Pendidikan, hingga jejak kariernya.
Profil dan Pendidikan Arrmanatha Nasir
Arrmanatha Nasir lahir di Bangkok, Thailand pada 30 Desember 1971. Dia dikenal sebagai seorang diplomat sebelum menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri sejak 21 Oktober 2024.Arrmanatha meraih gelar Sarjana bidang ekonomi dari University of Buckingham, Inggris. Dia lalu banting setir melanjutkan pendidikan jenjang S2 dan meraih gelar magister di bidang hubungan internasional dari Universitas Indonesia.
Dia juga meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari University of Leicester di Inggris.
Arrmanatha punya pengalaman kurang mengenakan selama sekolah di Indonesia dan dicap sebagai anak culun ketika masuk SMP. Dia mengakui sulit bergaul dengan teman sekolahnya sebab baru saja pindah dari Amerika Serikat.
Sejak kecil hingga SD, dia tinggal di Amerika sehingga sulit beradaptasi ketika sekolah di Indonesia. Bahkan, ada juga yang menyebutnya sombong. Padahal, saat itu dia hanya kesulitan berbahasa Indonesia.
"Tidak bisa bahasa Indonesia dengan benar, tidak mengerti bahasa lu, gue. Pokoknya dibilang sombong padahal cuma tidak mengerti," cerita Arrmanatha saat meninjau bakal Lahan Sekolah Garuda Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu, 8 Oktober 2025.
Namun, pengalaman sekolah di Indonesia itu membuatnya sadar ada nilai yang tak bisa diraih di luar negeri. Pendidikan di Indonesia menanamkan nilai kekeluargaan, solidaritas, saling menolong dan kekompakan.
Setelah lulus SMP, ia kembali sekolah di luar negeri karena mengikuti tugas orang tua hingga akhirnya kuliah di luar negeri. Meskipun lebih sering berada di luar negeri, tak membuat cintanya kepada Indonesia luntur.
Bahkan, saat kuliah ia sudah bertekad untuk berbakti kepada negara. "Bahkan saya tidak sekali pun merasa ingin bekerja di luar negeri. Saya selesai (kuliah) langsung saya ingin bekerja di dalam negeri," kenang dia.
Presiden Prabowo Subianto berbincang dengan Menteri Luar Negeri Baru Arrmanatha Nasir usai pelantikan. DOK YouTube Sekretariat Presiden
Karier Arrmanatha Nasir
Arrmanatha bergabung dengan Kementerian Luar Negeri pada tahun 1997. Dia telah mewakili Indonesia di berbagai forum internasional, termasuk sebagai Konselor di Perutusan Tetap Indonesia untuk PBB di New York dan sebagai Sekretaris Kedua di Jenewa, di mana dia memainkan peranan kunci sebagai negosiator Indonesia saat putaran perundingan WTO Doha Round dan memprakarsai pembentukan forum G33.Sebelum menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, Nasir menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Otoritas Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority) di Jamaika pada 2021-2024.
Selama masa tugasnya, dia memegang sejumlah posisi penting, termasuk sebagai Wakil Ketua Komite PBB untuk UN Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People (CEIRPP), Wakil Presiden ECOSOC, serta Wakil Ketua Komite Khusus untuk Dekolonisasi (C-24).
Arrmanatha juga pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Republik Prancis, Kepangeranan Andorra, Kepangeranan Monako, serta Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2019-2021.
Pada 2014-2019, ia menjabat sebagai Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia. Pada 2008-2012, ia bertugas sebagai Konselor di Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York.
Dalam posisi tersebut, ia menangani isu ekonomi dan pembangunan di Komite Kedua (Ekonomi dan Keuangan) Majelis Umum serta Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC), dan menegosiasikan sejumlah resolusi atas nama negara-negara berkembang yang tergabung dalam "Kelompok 77" (G77) dan Tiongkok.
Pada 2010-2011, ia menjabat sebagai Penasihat bidang isu ekonomi dan negara-negara kurang berkembang bagi Presiden Sidang ke-65 Majelis Umum PBB.
Di lingkungan Kementerian Luar Negeri Indonesia, dia telah menduduki sejumlah posisi senior, termasuk sebagai Juru Bicara Kementerian, Kepala Biro Dukungan Strategis Pimpinan/Chef de Cabinet untuk Menteri Luar Negeri RI (2014-2019), serta Kepala Sub Direktorat Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan.
Di antara berbagai jabatan lainnya di lingkungan Pemerintah Indonesia, Arrmanatha pernah menjabat sebagai Wakil Direktur bidang Pertanian dan Komoditas pada Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral pada 2005-2008.
Atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan Indonesia-Prancis, Arrmanatha dianugerahi penghargaan Commandeur de la Légion d’Honneur oleh pemerintah Prancis pada tahun 2021.