Ketua Alumni Program Habibie (IABIE), Bimo Sasongko menjelaskan, wacana menghidupkan kembali program beasiswa Habibie semakin menguat setelah pertemuan IABIE dengan Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro beberapa waktu lalu.
Bimo mengaku bersyukur usulan IABIE ini direspons positif oleh Bambang. Setelah selama hampir enam tahun advokasi untuk menghidupkan kembali program ini selalu ditolak.
“Jadi Alhamdulillah Menristek merespons kita dengan positif, selama ini tidak pernah direspons. Kita sudah melakukan advokasi ke berbagai lembaga pemerintahan, menristek, kepala BPPT, LIPI, Sesneg, DPR/MPR tidak ada respons, karena tidak ada ruhnya. Ini kebetulan Pak Bambang Brodjonegoro meski bukan orang teknik, tapi menangkap dengan bagus tujuan kita ini. Beliau setuju dan menegaskan akan dimulai lagi,” kata Bimo kepada Medcom.id, Jakarta, Jumat, 20 Desember 2019.
Beasiswa Habibie pertama kali dilangsungkan di era Menteri Riset dan Teknologi B.J Habibie atau tepatnya 30 tahun lalu, kemudian mandek di 1998. Bimo menjelaskan, Program Beasiswa Habibie ini khusus untuk jurusan Sains dan Teknologi di luar negeri. Tercatat hampir empat ribu siswa telah diberangkatkan ke luar negeri, seperti Amerika, Jepang, hingga Belanda.
Ia mengatakan, IABIE akan mendukung sepenuhnya inisiasi dari Menristek ini. Bukan tanpa sebab, karena masih ada beberapa yang menolak jika tamatan SMA sederajat langsung dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Padahal kata Bimo, momen yang tepat justru setelah siswa lulus SMA langsung dikirim ke luar negeri. Hal tersebut sudah dilakukan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia maupun Vietnam.
“Tujuannya IABIE menggaungkan kembali beasiswa ini, karena saat ini pemerintah lebih fokus memberi beasiswa S1 ke S2, atau S2 ke S3. Padahal kami merasa beasiswa paling dibutuhkan adalah ketika lulus SMA ke kuliah S1. Masih muda, single, kemampuan adaptasi masih bagus, bebas bergaul (secara positif), kemampuan bahasa juga lebih cepat menangkap, sehingga bahasanya lebih ringan. Kalau S2 usia sudah 30, 35 sudah susah, sudah menikah, dan lain-lain,” terang Bimo.
Untuk pendanaan, kata Bimo, nantinya akan diputuskan oleh Menristek. Karena ia yakin Bambang dengan pengalamannya dapat melihat pos-pos keuangan mana yang bisa digunakan.
Secara format tidak ada perubahan. Masih sama dengan Program Habibie yang dulu. Nantinya akan dipilih 100 orang terbaik yang langsung mendapatkan ikatan kerja, baik di BUMN maupun di Kementerian atau Lembaga menjadi ASN, dan sebelum berangkat ke negara tujuan akan ditatar selama enam bulan, untuk mempelajari bahasa dan budaya negara tujuan.
“Diseleksi diterima sebagai pegawai PNS pemerintah, BUMN dikirim ke luar negeri empat sampai lima tahun, kalau lulus boleh pulang, PNS BUMN atau Pemda, atau lanjut S2 dan S3 ada ikatan dinas. Ada jaminan kerja, bisa ASN, kementerian, di Universitas di mana saja, karena luas,” ujarnya.
Ia berharap 2020 program ini sudah bisa Kickoff. Kemudian enam bulan dilakukan penataran. “Kami harapkan Kemenristek agar kickoff Juni 2020, Agustus sudah mulai terpilih 100-200 orang terbaik, untuk digodok enam bulan sesuai negara, enam bulan kemudian ke negaranya,” terangnya.
Adapun negara maju yang disarankan antara lain, Amerika, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Belanda, Skandinavia. Selain itu juga Tiongkok dan Korea Selatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News