Indonesia Terlambat 35 Tahun dalam Pembangunan Science Techno Park
Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
Surabaya: Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan setiap daerah di Indonesia memiliki Science Techno Park (STP). Jika melihat pembangunan STP di negara-negara lain, Indonesia terhitung mengalami keterlambatan sekitar 35 tahun.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo menyampaikan pemerintah menargetkan pembangunan 100 STP dalam kurun waktu 2015-2019 yang tersebar di setiap wilayah. Meski diakuin ini sebagai rencana ambisius, namun Patdono optimis target tersebut akan tercapai.


Terlebih lagi, target tersebut masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).  "Ini adalah target yang sangat ambisius, karena berdasarkan pengalaman negara-negara lain, untuk membangun STP butuh waktu 28-35 tahun," kata Patdono saat membuka LIBT 2018 di Hotel Novotel, Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 23 Mei 2018.

Paling cepat, kata Patdono, idealnya pembangunan 100 STP itu membutuhkan waktu 15 tahun. Namun, pemerintah harus bergegas, untuk mengejar ketertinggalan Indonesia terhadap negara-negara lain,

"Korea misalnya, sudah membangun STP sejak 35 tahun lalu. Pemerintah baru buat program 2015. Berarti kita sudah terlambat 35 tahun," ucapnya.

Pembangunan STP memiliki tujuan menghasilkan startup company. Hal ini demi menghadapai tantangan ekonomi di era revolusi industri 4.0 (generasi keempat).

Patdono yakin jika di setiap daerah ada STP, hal itu akan memacu perputaran roda ekonomi. Karena, setiap tahun akan muncul pengusaha-pengusaha berbasis digital atau startup company.

"Kalau muncul pengusaha baru dipastikan ekonominya tumbuh," tutur Patdono.

Sebelumnya, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan memperkuat keberadaan lembaga inkubator bisnis teknologi (LIBT) di sembilan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH).

Ke-9 PTN BH tersebut di antaranya UI, IPB, ITB, UGM, ITS, Undip dan Unpad.  Sedangkan dua PTN BH lainnya, diarahkan untuk peningkatan kualitas kinerja inkubator.

"Penguatan ini diharapkan mampu menghasilkan perusahaan pemula berbasis teknologi  (PPBT) yang berkualitas dan berkelanjutan," kata Patdono.



(CEU)