Bulan Purnama. MTVN/Duta Erlangga
Bulan Purnama. MTVN/Duta Erlangga

Jangan Lewatkan, Fenomena Pink Moon April 2026 Bisa Dilihat Malam Ini Lho!

Renatha Swasty • 01 April 2026 17:51
Ringkasnya gini..
  • Pink Moon diprediksi menghiasi langit mulai Rabu malam hingga Kamis dini hari, tepatnya pada tanggal 1 dan 2 April 2026.
  • Fenomena Pink Moon akan mencapai puncaknya pada Kamis, 2 April 2026, tepat pukul 09.11 WIB.
  • Fenomena Pink Moon sejatinya adalah purnama biasa.
Jakarta: Langit malam di awal bulan April 2026 akan menyuguhkan pemandangan astronomi memukau bagi masyarakat Indonesia. Fenomena yang dikenal dengan sebutan Pink Moon diprediksi menghiasi langit mulai Rabu malam hingga Kamis dini hari, tepatnya pada tanggal 1 dan 2 April 2026.
 
Meskipun namanya mengandung unsur warna merah muda, penamaan ini sebenarnya bukan merujuk pada perubahan fisik warna satelit alami Bumi tersebut. Sebutan ini merupakan tradisi yang diwariskan dari masyarakat di belahan bumi utara untuk menandai mekarnya bunga-bunga musim semi yang mulai menghiasi daratan pada periode bulan April.
 
Para pengamat langit dapat menikmati momen ini dengan mata telanjang tanpa perlu khawatir akan adanya dampak negatif bagi kesehatan mata. Selain menjadi objek fotografi yang indah, kehadiran pink moon juga menjadi pengingat akan keteraturan gerak benda langit yang secara alami memengaruhi pasang surut air laut di sepanjang pesisir.

Lantas, apa sebenarnya Pink Moon dan bagaimana cara melihatnya? Yuk simak informasinya berikut ini:

Apa itu Pink Moon?

Melansir laman Almanac, penamaan Pink Moon berakar dari kebiasaan masyarakat tradisional yang menghubungkan fase bulan purnama dengan siklus musim, di mana sebutan tersebut mencakup seluruh periode bulan yang bersangkutan.
 
Nama Pink Moon diambil dari bunga merah muda asal Amerika Utara bernama Phlox subulata atau creeping phlox. Hal tersebut terjadi karena bunga cantik ini mekar tepat saat bulan purnama April muncul, masyarakat menjadikannya simbol tibanya musim semi yang cerah.
 
Profesor Astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menegaskan fenomena ini sejatinya adalah purnama biasa. 
 
"Warnanya bukan pink, sama dengan purnama umumnya, putih kekuningan. Itu hanya penamaan orang Amerika Serikat yang kemudian digunakan di media," ujar Thomas dikutip dari laman Antara, Rabu, 1 April 2026.
   

Kapan Pink Moon Bisa Dilihat di Indonesia?

Berdasarkan data dari laman Time and Date, fenomena Pink Moon akan mencapai puncaknya pada Kamis, 2 April 2026, tepat pukul 09.11 WIB. Walaupun momen puncaknya berlangsung saat matahari sudah terbit, keindahan cahaya bulan yang terang benderang sudah dapat dinikmati sepanjang malam sebelumnya, yakni sejak Rabu petang hingga menjelang fajar hari Kamis.
 
Waktu terbaik mengamati fenomena ini adalah sesaat setelah bulan terbit di ufuk timur pada waktu senja. Hal ini disebabkan oleh posisi bulan yang masih rendah akan menciptakan efek ilusi optik yang membuatnya terlihat jauh lebih besar dengan pancaran warna keemasan yang memukau di cakrawala.

Cara Melihat Pink Moon

Beruntungnya, fenomena Pink Moon dapat disaksikan dengan mudah tanpa memerlukan alat khusus. Thomas menyebut fenomena ini sangat aman diamati secara langsung. 
 
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengamati Pink Moon agar lebih optimal:
  1. Pilih tempat dengan pandangan luas ke arah cakrawala tanpa terhalang bangunan tinggi
  2. Fenomena ini bisa dilihat langsung dengan mata telanjang, namun penggunaan teleskop plus kamera akan membantu menangkap detail permukaan bulan
  3. Cari lokasi yang gelap agar kontras cahaya bulan terlihat lebih tajam
  4. Amati saat bulan baru terbit atau waktu magrib untuk melihat penampakan bulan yang tampak lebih besar dari biasanya
  5. Jika menggunakan teleskop, gunakan filter bulan untuk mengurangi silau yang kuat sehingga kawah seperti Tycho atau Copernicus terlihat jelas
Thomas juga mengingatkan masyarakat meski tidak ada dampak negatif secara langsung bagi manusia, fenomena ini tetap membawa pengaruh alamiah. 
 
"Dampaknya secara umum sama dengan purnama lainnya, yaitu peningkatan pasang air laut karena posisi Bulan dan Matahari yang hampir segaris dengan Bumi," beber dia. (Talitha Islamey)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan