Ilustrasi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) si SMAN 4 Malang, Jawa Timur, Selasa, 5 Maret 2019. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq.
Ilustrasi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) si SMAN 4 Malang, Jawa Timur, Selasa, 5 Maret 2019. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq.

USBN Pakai Sistem Android Dinilai Rawan Masalah

Daviq Umar Al Faruq • 05 Maret 2019 15:13
Malang: Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) menggunakan smartphone atau telepon pintar berbasis sistem Android pertama kali digelar di Jawa Timur tahun ini. Jatim menjadi satu-satunya provinsi yang penyelenggaraan USBN dengan sistem Android tersebut.
 
Namun, sejumlah sekolah di Kota Malang masih belum menerapkan USBN menggunakan smartphone. Pasalnya USBN dengan Android dinilai rawan bermasalah.
 
Waka Kurikulum SMAN 4 Malang, Gunarta mengatakan, sekolahnya sebelumnya sudah pernah menjajal pelaksanaan ujian menggunakan smartphone. Yakni saat ujian try out yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Jawa Timur beberapa pekan lalu.

"Tapi android itu kan versinya macam-macam. Untuk menyamakannya sistemnya susah. Apalagi kemarin dicoba jaringan servernya terkendala," kata Gunarta saat ditemui Medcom.id, Selasa, 5 Maret 2019.
 
Gunarta menjelaskan, dengan alasan tersebut SMAN 4 Malang tidak menggunakan smartphone pada pelaksanaan USBN kali ini. Padahal, pihak sekolah sebelumnya sudah melakukan simulasi menggunakan smartphone untuk USBN.
 
"Jadi sudah sempat dipersiapkan. Kami juga sudah pakai penguat sinyal. Tapi di hari terakhir simulasi ternyata ada masalah. Kami nggak berani untuk dipakai di USBN, jadi diputuskan menggunakan komputer," jelas Gunarto.
 
SMAN 4 Malang sendiri sebenarnya sudah menyatakan siap untuk menggelar USBN menggunakan smartphone. Sebab, penggunaan smartphone dinilai lebih praktis dibanding menggunakan komputer. Apalagi siswa saat ini masing-masing telah memiliki smartphone.
 
Selain itu, bila menggunakan smartphone, ujian bisa dilakukan dalam satu sesi. Sedangkan bila menggunakan komputer, ujian harus digelar dua sesi dalam satu hari.
 
"Jumlah siswa kami ada 266 orang. Jumlah komputer dan laptop kami ada sekitar 300 an. Tapi tidak bisa dijadikan satu sesi untuk mengantisipasi komputer yang rusak, jadi perlu cadangan," beber Gunarto.
 
Gunarta menambahkan, pihaknya tidak ada masalah dengan keamanan ujian menggunakan smartphone. Sebab, sebelum ujian dilakukan, smartphone siswa dikumpulkan terlebih dahulu untuk diatur keamanannya.
 
"Jadi kalau sudah buka aplikasi ujian, siswa nggak bisa buka aplikasi lain. Kalau buka aplikasi lain, aplikasi ujian akan mengulang dari awal dan siswa harus meminta token ke kami. Disitu bakal ketahuan kalau siswa buka aplikasi lain," pungkas Gunarto.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan