Tiga penulis buku Menumpas Bandar Menyongsong Fajar: Sejarah Penanganan Narkotika di Indonesia. Foto: Istimewa
Tiga penulis buku Menumpas Bandar Menyongsong Fajar: Sejarah Penanganan Narkotika di Indonesia. Foto: Istimewa

Tak Sampai 200 Halaman, Buku Ini Rangkum Sejarah Narkotika di Indonesia

Media Indonesia.com • 28 Januari 2022 22:38
Jakarta: Tak banyak buku sejarah peredaran narkotika di Indonesia. Salah satu yang bisa menjadi referensi adalah buku berjudul Menumpas Bandar Menyongsong Fajar: Sejarah Penanganan Narkotika di Indonesia.
 
Buku yang ditulis tiga alumnus Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, ini mendedahkan sejarah panjang peredaran narkotika di Indonesia. Untuk ukuran buku sejarah, buku ini cukup ringkas dan padat dengan 196 halaman.
 
Dalam buku ini, ketiga penulis yakni Ardi Subandri, Suradi, dan Toto Widyarsono merangkum sejarah panjang narkoba dan dampak penyalahgunaannya. Dibahas pula perkembangan kelembagaan yang menangani pemberantasan narkotika dan bandar-bandarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami juga membahas mengenai terbentuknya Badan Narkotika Nasional atau BNN," kata Suradi, melalui keterangan tertulis yang diterima, Jumat, 28 Januari 2022.
Tak Sampai 200 Halaman, Buku Ini Rangkum Sejarah Narkotika di Indonesia

Buku ini juga menghadirkan testimoni dari 11 tokoh penting pemberantasan narkotika di Indonesia. Mereka bercerita mengenai bagaimana menangani narkotika.
Di bab awal, buku ini membahas tentang peredaran opium di Jawa. Pada awal abad ke-17 Persekutuan Dagang Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC) membeli bahan mentah opium di pantai barat India. 
 
"Perdagangan ini sangat menguntungkan. Pada abad ke-19, opium di Jawa dimonopoli Pemerintah Kolonial Belanda. Pada saat itulah mulai diberlakukan pajak opium," terang Suradi.
 
Baca: Luar Biasa SMAN Ngluwar, Luncurkan 66 Buku Sekaligus!
 
Peredaran opium ini juga masih terus berlangsung hingga ke masa perang kemerdekaan. Dalam buku juga diterangkan bagaimana narkotika jenis baru mulai masuk ke Indonesia.
 
Letak geografis di antara dua benua juga semakin membuat Indonesia menjadi pasar sekaligus tempat transit narkotika. Bahkan, Indonesia sudah masuk sindikat jaringan pengedar narkoba yang berasal dari Amerika Latin.
 
"Melalui buku ini, kami bukan saja menyajikan perjalanan narkotika, tetapi juga mengingatkan betapa bahayanya jika penanganan sindikat dan bandar tidak dilakukan secara efektif dan koordinatif," kata Suradi.

 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif