Pembangunan sekolah virtual Santa Ursula berbasis metaverse. Foto: Dok. Santa Ursula
Pembangunan sekolah virtual Santa Ursula berbasis metaverse. Foto: Dok. Santa Ursula

Santa Ursula Bangun Sekolah Virtual Berbasis Metaverse

Citra Larasati • 11 Agustus 2022 19:42
Jakarta:  Sekolah Santa Ursula Jakarta bekerja sama dengan Medusa Technology akan membangun Metaverse Sekolah Santa Ursula.  Pembangunan ini ditandai dengan penandatanganan MoU pada Rabu, 10 Agustus 2022 bertempat di Sekolah Menengah Atas Santa Ursula Jakarta.
 
Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh Suster Moekti sebagai Ketua III Yayasan Satya Bhakti dengan Medusa Technology.  Pembangunan Metaverse Sekolah Santa Ursula berawal dari misi Sekolah Santa Ursula menjadi komunitas pembelajar yang berkarakter Serviam, berwawasan global, dan berbasis teknologi.
 
Dari misi inilah Sekolah Santa Ursula memutuskan untuk merambah metaverse dan mempersiapkan para guru untuk menghadapi era dunia virtual reality yang berbeda dengan era sebelumnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Harapan kami pada pembangunan Metaverse Sekolah Santa Ursula adalah membantu siswa untuk semakin berkreasi, menjadi makin kreatif dan dapat mengikuti perkembangan zaman atau perkembangan teknologi. Dan untuk para guru supaya menjadikan pembelajaran jadi lebih menarik,” kata Moekti.
 
Ia berharap semua pengguna Metaverse Sekolah Santa Ursula dapat menggunakannya dengan bijak, untuk membantu dirinya berkembang secara utuh.  Selain melakukan pembangunan sekolah virtual dalam bentuk 3-dimensi yang bisa diakses siswa Santa Ursula dari mana pun, Medusa Technology juga memberikan pelatihan cyber pedagogy buat para guru.
 
“Medusa Technology mengkhususkan diri untuk menjadi penyedia metaverse bagi dunia pendidikan, sehingga kami juga memberikan layanan pelatihan bagi guru untuk mempelajari cyber pedagogy, selain itu kami juga memberikan pelatihan gamifikasi belajar di dalam dunia virtual bagi guru-guru Sekolah Santa Ursula,” kata Project Manager pada Medusa Technology, Maria Magdalena.
 
Maria mengatakan, jika berbicara tentang metaverse, siswa-siswa ini mengenal metaverse terlebih dahulu dibandingkan orang dewasa. Mereka telah memanfaatkannya untuk berkolaborasi dalam games bersama teman-temannya.
 
"Mereka adalah digital native, sehingga dalam bereksplorasi di dalam metaverse pun tidak akan mengalami kesulitan. Orang dewasalah yang sering mengalami kesulitan. Itu sebabnya jika ingin menjangkau mereka dalam aktivitas belajar, kita harus masuk ke dalam dunia mereka," terangnya.
 
Metaverse sebagai sarana belajar juga memiliki kelebihan dalam hal interaksi antarmanusia. Di dalam metaverse, wajah pengguna bisa didigitalisasi untuk membentuk avatarnya.
 
Selama berinteraksi pun, avatar yang sudah berwajah pengguna itu bisa memiliki ekspresi yang sama dengan manusia yang mengendalikannya. Misalnya, ketika pengguna menghadap ke kanan, avatarnya juga tampak menghadap ke kanan.
 
Dari sinilah interaksi antarpengguna terjadi. “Nah jika kita pakai Zoom dalam belajar daring, ketika video dimatikan kita tidak tahu apakah orang itu masih ada di ruangan tersebut, bisa jadi dia sedang ada di ruang makan,” kata Praktisi Teknologi Pembelajaran, Eko Indrajit yang menjabat sebagai Komisaris Medusa Technology.
 
Interaksi belajar jarak jauh pun akan makin menyenangkan, karena siswa merasa seperti main games.  Selain kelebihannya dalam interaksi jika dibandingkan dengan platform meeting pada umumnya, metaverse memiliki kelebihan pada eksperimen dan eksplorasi ilmu yang tidak terbatas dan bersifat menyeluruh.
 
“Di laboratorium sekolah, yang dicampur ya zat yang itu-itu saja, berbeda dengan laboratorium metaverse. Di sini siswa bisa mengambil zat apapun. Kalau terjadi ledakan karena campuran itu sifatnya simulatif, dari situ siswa belajar bahwa zat tersebut tidak boleh dicampur, dan mereka belajar dalam kondisi yang aman,” jelas Eko.
 
Seperti kita ketahui, saat ini metaverse sedang tren sebagai media untuk belajar dan berkolaborasi. “Metaverse sudah ada sejak tahun 2000-an, tapi baru booming akhir-akhir ini,” kata Maria.
 
Pada awalnya dulu, metaverse memang dimaksudkan untuk bertemu, berkolaborasi dalam berbagai bidang, role-playing, bahkan penelitian, namun sekitar tahun 2015 mulai banyak kampus-kampus di dunia yang melirik metaverse sebagai tempat belajar.  "Sehingga penggunaan metaverse di sekolah-sekolah Indonesia sangat layak dipertimbangkan,” lanjut Maria yang telah aktif dalam komunitas pendidik internasional di metaverse sejak 2010.
 
Baca juga:  Metaverse, Teknologi Masa Depan yang Bisa Ubah Impian Jadi Realita

 
(CEU)




LEAVE A COMMENT
LOADING
social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif