Jakarta: Nama Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto turut dibicarakan dalam kasus dugaan Child Grooming terhadap Aurelie Moeremans. Kak Seto disebut pernah menolak untuk mendampingi dan membantu keluarga Aurelie Moeremans.
Kisah kelam Aurelie sebagai penyintas Child Grooming tersebut dituangkan dalam Buku Broken Strings yang kini tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Buku ini menarik perhatian publik bukan hanya karena ini menyangkut kisah nyata Aurelie, namun juga karena berisi rangkaian tulisan reflektif dan pengalaman personal yang emosional, jujur, dan menyentuh.
Namun, belakangan Kak seto telah memberikan klarifikasi tekait dugaan tersebut. Nah sebelumnya yuk cari tahu siapa Kak Seto! Berikut profil kak Seto:
Profil Kak Seto
Kak Seto merupakan psikolog anak bernama lengkap Seto Mulyadi. Kak Seto saat ini sudah berumur 74 tahun.
Kak Seto merupakan salah satu tokoh yang banyak dikenal dalam perkembangan pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia. Kiprahnya membentang dari dunia akademik hingga aktivitas sosial.
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1951, Kak Seto telah mengabdikan hidupnya di dunia anak-anak sejak era 1970-an, dimulai dengan membantu mendiang pasangan legendaris, Pak Kasur dan Ibu Kasur.
Secara akademis, Kak Seto memang sudah fokus pada psikologi. Berikut rekam pendidikan Kak Seto:
Pendidikan Kak Seto
- S1 Psikologi Universitas Indonesia
- S2 Psikologi Universitas Indonesia
- S3 Psikologi Universitas Indonesia
Saat ini Kak Seto telah menjalani profesi sebagai psikolog selama 55 tahun. Ia pun kita telah menyandang status Guru Besar Bidang Psikologi.
Di ranah hiburan dan edukasi, Kak Seto dikenal luas sebagai pencipta karakter Si Komo, boneka komodo yang sangat populer di program televisi anak-anak pada era 1990-an.
Kontribusi visionernya tak berhenti di situ, ia juga tercatat sebagai pendiri Yayasan Mutiara Indonesia pada tahun 1982 dan memprakarsai pembangunan Istana Anak-Anak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Selain itu, ia juga merupakan sosok di balik pendirian Homeschooling Kak Seto.
Namun, peran Kak Seto yang paling melekat adalah sebagai aktivis dan pelopor dalam perlindungan anak. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) selama periode 1998 hingga 2010.
Saat ini, Kak Seto masih aktif menjabat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), menjadikan namanya sinonim dengan perjuangan hak dan kesejahteraan anak-anak Indonesia. Ia juga diketahui memiliki saudara kembar, Kresno Mulyadi, yang juga merupakan seorang psikiater anak.
Kak Seto akhirnya menyampaikan penjelasan terbuka menanggapi anggapan bahwa dirinya tidak berperan aktif dalam membantu keluarga Aurelie Moeremans saat kasus dugaan eksploitasi psikologis mencuat.
Isu tersebut kembali ramai dibicarakan publik setelah kisah lama itu diangkat ulang pada awal 2026.
Melalui unggahan di Instagram Story pada Selasa, 13 Januari 2026, psikolog anak itu meminta masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan. “Mohon kepada para sahabat semua, kiranya dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih tanpa melintir fakta ke arah pemahaman yang keliru,” tulis Kak Seto.
Terkait tudingan minimnya tindakan nyata, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia itu menyatakan bahwa upaya pendampingan telah dilakukan sesuai peran dan kewenangan yang tersedia kala itu.
“Pada masanya, kami telah berupaya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab kami saat itu,” jelasnya.
Perhatian publik terhadap kasus ini kembali menguat setelah Aurelie Moeremans meluncurkan buku memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Dalam buku tersebut, ia mengisahkan pengalaman hubungan yang bersifat manipulatif ketika masih berusia 15 tahun dengan seorang pria dewasa berusia sekitar 29 tahun.
Pada rentang waktu 2009 hingga 2010, ibu Aurelie, Sri Sunarti, sempat membawa persoalan tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Saat itu, KPAI berusaha menjembatani komunikasi antara keluarga dan pihak pria yang bernama samaran “Bobby”, namun proses tersebut tidak berjalan mulus.
Kesulitan utama muncul karena kondisi mental Aurelie yang masih berada di bawah pengaruh kuat pelaku sehingga kerap menolak bekerja sama. Selain itu, posisi usia yang hampir memasuki kategori dewasa membuat langkah perlindungan secara hukum menjadi terbatas.
Dalam kesaksian terbarunya, Aurelie mengungkap bahwa dirinya sempat menyampaikan keterangan yang tidak sesuai fakta karena berada dalam situasi tertekan. Ia mengaku menerima ancaman serius, mulai dari intimidasi fisik hingga ancaman penyebaran foto pribadi, yang membuatnya memilih bungkam saat diperiksa.
Menutup klarifikasinya, ia meminta agar pengungkitan kembali kasus lama tersebut tidak diarahkan pada saling menyalahkan.
“Apabila di tahun 2026 ini ada pihak yang kembali mengangkat kasus tahun 2010 tersebut, kiranya hal itu tidak dijadikan ruang untuk saling menuduh, memfitnah, menyerang secara personal, atau mengubah makna fakta yang sebenarnya,” tegasnya.
| Baca juga: Link Buku Broken Strings Aurelie Moeremans, Baca Versi Indonesia dan Inggris Gratis |
Cek Berita dan Artikel yang lain di