Pembukaan Seminar Tahunan World Class Professor 2019, di Gedung D Kemendikbud, Jakarta. Foto:  Medcom.id/Glory Nathan
Pembukaan Seminar Tahunan World Class Professor 2019, di Gedung D Kemendikbud, Jakarta. Foto: Medcom.id/Glory Nathan

Kemendikbud Kembali Undang Profesor Kelas Dunia

Pendidikan inovasi Riset dan Penelitian
Medcom • 02 Desember 2019 16:04
Jakarta:Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali mengundang ilmuwan setingkat profesor kelas dunia untuk datang ke Tanah Air melalui program World Class Professor (WCP). Agenda tahunan ini telah berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), utamanya dosen di Indonesia.
 
“Saat ini kami Direktorat Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) akan bekerja sama dengan Kemendikbud untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para dosen. Selain itu, kami juga punya tanggung jawab untuk mengembangkan potensi siswa di era revolusi industri ini,” ujar Direktur Jenderal SDID, Kemendikbud, di acara Seminar Tahunan World Class Professor 2019, di Gedung D Kemendikbud, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.
 
Acara WCP ini adalah sebuah program yang mengundang profesor kelas dunia, baik dari dalam maupun luar negeri untuk membagikan pengalaman ke sejumlah perguruan tinggi di Tanah Air. Program WCP ini terbukti telah berhasil menjadi media kolaborasi riset antara peneliti Indonesia dengan profesor kelas dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ghufron, WCP ini merupakan program strategis bagi pengembangan kompetensi para dosen di Indonesia dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman. “Kita kan sekarang memasuki era revolusi industri 4.0. Nanti semuanya akan dikerjakan oleh robot. Ini menjadi susah karena ibaratnya robot bisa saja menggantikan guru yang tidak produktif,” tutur Ghufron.
 
Oleh karena itu ada tiga hal penting yang harus dimiliki para dosen atau pengajar, di antaranya ialah perubahan cara paradigma berpikir. “Selanjutnya, apakah kalian tahu bahwa robot tidak memiliki perasaan, tidak memiliki cinta dan kasih sayang? Maka dari itu penting jika antara dosen dan murid memiliki interaksi yang berkualitas,” tambah guru besar Universitas Gadjah Mada ini.
 
Selain itu, yang terpenting adalah memiliki kompetensi atau kemampuan. Salah satunya kemampuan dalam menulis sebuah jurnal. Menurut Ghufron, di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 menjadi kompetitif itu penting, terlebih jika ditambah dengan kemampuan kolaborasi akan lebih menghasilkan sesuatu yang bernilai dan bermakna.
 
Seperti halnya dalam menghasilkan publikasi internasional.Ghufron menilai, Program WCP ini menjadi suatu arena kerja sama untuk saling memberikan inspirasi yang nantinya berujung pada ide-ide baru (inovasi).
 
“Jadi kalau ditanya hasil dari banyaknya publikasi itu apa, jawabannya adalah isi dari publikasi itu sendiri. Karena isi dari publikasi tersebut bersifat kebaruan dan menghasilkan inovasi. Sedangkan suatu bangsa tidak bisa maju kalau tidak inovatif,” tutur Dirjen Ghufron.
 
Dalam hal ini, peran perguruan tinggi sangat penting dalam rangka membangun karakter serta jaringan.Ghufron juga mengingatkan agar para dosen yang belum menjadi Profesor untuk segera mendaftarkan diri.
 
“Yang belum profesor segera saja, karena mumpung sekarang masih musim mudah, nanti ke depannya saya tidak tahu jika struktur diubah dan menjadi sulit ngurusnya,” ujar Ghufron.
 
Selain WCP, Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti juga memiliki berbagai program peningkatan kualifikasi dan kompetensi dosen, seperti Program Percepatan Doktor melalui Beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), pemberdayaan ilmuwan diaspora, post doctoral, mobilisasi dosen, hingga sabbatical leave (dosen merenung).
 
Seminar World Class Professor 2019 menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan profesor kelas dunia. Di antaranya Prof. Phillipe Girardin dari The Lorraine University, Prancis. Pembicara berikutnya adalah penerima program WCP dalam negeri, yakni Prof. Unang Supratman dari Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Dr. Kurnianingsih dari Politeknik Negeri Semarang (Polines). Pada acara seminar juga dipamerkan poster-poster penelitian penerima WCP 2019. (Glory Natha)
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif