Standar kualitas tersebut berbeda-beda tergantung jenis industri, produk, segmentasi, dan strategi bisnisnya. Misalnya, ada dua perusahaan yang sama-sama memproduksi saus sambal.
Perusahaan A menentukan segmen pasar Eropa dan perusahaan B menentukan segmen pasar dalam negeri. Pasar Eropa dan pasar dalam negeri diatur oleh regulasi berbeda termasuk dalam hal standar kualitas produk yang diperbolehkan.
Standar kualitas pangan Eropa mengacu pada ketentuan dari British Retail Consortium (BRC). Sementara itu, standar kualitas pangan dalam negeri mengacu pada ketentuan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan standar rujukan lainnya.
Nah, peran divisi quality control menerjemahkan standar kualitas produk yang ingin dipenuhi sebagai tolok ukur yang perlu dicapai. Divisi ini juga akan memastikan alat dan bahan yang digunakan sesuai dengan standar kualitas. Setelah itu, divisi quality control dapat melakukan fungsi monitoring dan evaluasi terhadap seluruh rangkaian produksi.
Lalu, tugas divisi quality control apa saja ya? Apakah sebatas mengecek kualitas hasil produksi? berikut tugas divisi quality control dikutip dari laman Quipper:
1. Menguji dan menilai kualitas bahan baku
Proses ini dilakukan ketika bahan baku diterima dari supplier sebelum masuk ke tahap produksi. Divisi quality control perlu memastikan spesifikasi bahan baku diterima dengan standar yang ditetapkan.Jika bahan baku tersebut telah sesuai, maka akan langsung diterima dan dilanjutkan ke proses produksi atau disimpan terlebih dahulu di ruang penyimpanan. Bahan baku yang tidak memenuhi standar akan dikembalikan kepada supplier.
2. Menguji dan menilai kelayakan peralatan produksi
Tim quality control juga secara berkala mengecek kelayakan peralatan produksi. Hal ini untuk memitigasi potensi masalah yang mungkin timbul dari peralatan produksi yang bisa berdampak pada kualitas produk.3. Mengidentifikasi kecacatan produk jadi
Setelah produk jadi, tim quality control berperan mengecek dan mengidentifikasi ada tidaknya kecacatan pada produk sebelum akhirnya terdistribusi ke pasar. Ini adalah fase yang sangat penting dan wajib dilakukan dengan penuh ketelitian.Apabila ada satu produk mengalami cacat kemudian sampai ke tangan konsumen, maka bisa berdampak pada penarikan seluruh produk dari pasaran. Nah, kebayang ya seberapa pentingnya tahap ini?
4. Mencatat dan melaporkan permasalahan
Setiap proses tidak lepas dari pemantauan, tim QC akan mencatat dan mendokumentasikan untuk disampaikan kepada pimpinan. Hal itu baik saat ada temuan permasalahan maupun tidak ada masalah. Dokumen atau rekaman proses produksi yang terpantau juga akan diperiksa oleh kepala divisi produksi secara berkala untuk memeriksa hal-hal yang bisa dioptimalisasi dalam proses produksi.5. Mendukung peningkatan proses
Salah satu bentuk optimasi adalah penanganan produk cacat dengan protokol terpisah. Tujuannya agar tidak mengganggu jalannya proses produksi. Dengan begitu, produk yang sampai ke konsumen bisa dipastikan aman dan tim produksi bisa tetap fokus. Sementara itu, produk cacat akan ditangani berdasarkan protokol rekomendasi quality control.6. Memperbaiki sistem produksi
Fungsi tim quality control yang paling fundamental adalah menelusuri potensi risiko yang bisa terjadi baik dari bahan baku, pekerja, maupun pengunaan mesin-mesin. Artinya, quality control lebih mengedepankan upaya-upaya preventif walaupun tetap menyediakan rekomendasi untuk memperbaiki proses-proses dianggap belum memenuhi standar. Jadi, divisi quality control akan lebih banyak memberikan rekomendasi perbaikan.7. Membuat dan mengevaluasi SOP
Salah satu upaya mitigasi risiko pada setiap rangkaian proses, tim QC akan membuat Standard Operating Procedure (SOP) yang bisa dipahami dengan baik oleh seluruh karyawan. SOP diberlakukan untuk memastikan setiap tim maupun individu pekerja melakukan tugas sesuai dengan standar yang diharapkan, sehingga bila terjadi kesalahan bisa terdeteksi dengan mudah. Penerapan SOP akan selalu dipantau dan dievaluasi berkala oleh tim QC dan sangat mungkin direvisi bila ada hal-hal yang belum termasuk dalam SOP tersebut.Bagaimana Sobat Medcom, menarik kan tugas dan tanggung jawab quality control dalam suatu lingkup industri? Namun, untuk menjadi seorang quality control specialist, harus menempuh proses yang cukup panjang.
Sobat Medcom bisa memulainya dengan kuliah di jurusan yang relevan dengan tugas quality control, kemudian mengambil program sertifikasi. Nah, salah satu jurusan yang paling relevan dengan profesi ini adalah Jurusan Teknik Industri di Institut Teknologi Telkom Purwokerto (ITTP).
Jurusan Teknik Industri ITTP
Jurusan Teknik Industri ITTP mengembangkan ranah keilmuan berbasis pada management system, manufacturing system engineering, operation research, dan human factor engineering. Keempat hal tersebut merupakan modal dasar dalam mengembangkan berbagai keilmuan dalam ranah teknik industri, seperti desain sistem operasional maupun desain sistem monitoring kualitas produk yang dijalankan oleh divisi quality control.Kurikulum yang diterapkan di Jurusan Teknik Industri ITTP memungkinkan bagi Sobat Medcom memilih bidang konsentrasi. Program konsentrasi yang dikembangkan, yaitu Supply Chain Management & Logistik, Manajemen Industri, dan Sistem Manufaktur.
Masing-masing bidang konsentrasi dikembangkan agar memiliki kemampuan sesuai passion dalam mendukung rencana karier yang lebih spesifik dari awal. Setelah lulus, Sobat Medcom juga sudah memiliki rencana yang matang terkait rencana karier di masa depan.
| Baca juga: Deretan Jurusan Kuliah yang Gampang Cari Kerja dan Cerah Masa Depannya |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News