Monumen Pancasila Sakti. Medcom.id/Faisal Abdalla
Monumen Pancasila Sakti. Medcom.id/Faisal Abdalla

5 Hal yang Harus Diketahui Soal G30s/PKI: Ajang Penghabisan Nyawa Hingga Alat Propaganda Politik

Media Indonesia.com • 30 September 2022 09:34
Jakarta; Perjalanan Indonesia sebagai negara diisi banyak peristiwa hingga tragedi. Salah satunya, Gerakan 30 September.
 
Gerakan 30 September/PKI, sering disingkat G30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), atau juga Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah peristiwa yang terjadi selewat malam pada 30 September sampai awal bulan selanjutnya 1 Oktober 1965. Sebanyak tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta pada peristiwa itu. 
 
Peristiwa itu tak cuma soal pembunuhan semata. Belakangan, kasus itu justru menjadi ajang penghabisan nyawa dan alat propaganda politik. Seperti apa sebenarnya peristiwa G30S/PKI? Simak lima fakta soal G30S/PKI

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


1. Sejarah singkat G30S/PKI
 
G30S merupakan gerakan yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Gerakan ini dipimpin DN Aidit, yang saat itu merupakan ketua dari Partai Komunis Indonesia (PKI).
 
Pada 1 Oktober 1965 dini hari, Letkol Untung, yang merupakan anggota Cakrabirawa (Pasukan Pengawal Istana) memimpin pasukan yang dianggap loyal pada PKI.
 
Gerakan itu mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia. Sebanyak tiga dari enam orang yang menjadi target langsung dibunuh di kediamannya. Sedangkan, lainnya diculik dan dibawa menuju Lubang Buaya.
 
Jenazah ketujuh perwira TNI AD itu ditemukan selang beberapa hari kemudian. 
 
2. Pejabat tinggi yang menjadi korban
 
Keenam perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah:
  1. Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani
  2. Mayor Jenderal Raden Soeprapto
  3. Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono
  4. Mayor Jenderal Siswondo Parman
  5. Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan
  6. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo
Sementara itu, Panglima TNI AH Nasution, yang menjadi target utama, berhasil meloloskan diri. Tapi, putrinya Ade Irma Nasution tewas tertembak dan ajudannya, Lettu Pierre Andreas Tendean diculik dan ditembak di Lubang Buaya.
 
Keenam jenderal beserta Lettu Pierre Tendean kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Sejak berlakunya UU Nomor 20 Tahun 2009, gelar ini juga diakui sebagai Pahlawan Nasional.
 
Selain itu, beberapa orang lainnya juga menjadi korban pembunuhan di Jakarta dan Yogyakarta. Mereka adalah:
  1. Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun
  2. Kolonel Katamso Darmokusumo
  3. Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto

3. Pascakejadian

Setelah peristiwa G30S/PKI, rakyat menuntut Presiden Soekarno membubarkan PKI. Soekarno kemudian memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto membersihkan semua unsur pemerintahan dari pengaruh PKI.
 
Soeharto bergerak cepat. PKI dinyatakan sebagai penggerak kudeta dan tokohnya diburu dan ditangkap, termasuk DN Aidit yang sempat kabur ke Jawa Tengah tapi kemudian berhasil ditangkap.
 
Anggota organisasi yang dianggap simpatisan atau terkait dengan PKI juga ditangkap. Organisasi-organisasi tersebut antara lain Lekra, CGMI, Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia, Gerakan Wanita Indonesia, dan lain-lain.
 
Berbagai kelompok masyarakat juga menghancurkan markas PKI yang ada di berbagai daerah. Mereka juga menyerang lembaga, toko, kantor, dan universitas yang dituding terkait PKI.
 
Pada akhir 1965, diperkirakan sekitar 500.000 hingga 1 juta anggota dan pendukung PKI menjadi korban pembunuhan. Sedangkan, ratusan ribu lainnya diasingkan di kamp konsentrasi.

4. Diperingati pada Zaman Orba

Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, G30S/PKI selalu diperingati setiap 30 September. Selain itu, 1 Oktober juga diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
 
Untuk mengenang jasa ketujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa ini, Soeharto juga menggagas dibangunnya Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

5. Diabadikan dalam film propaganda

Pada 1984, film dokudrama propaganda tentang peristiwa ini yang berjudul Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI dirilis. 
 
Film ini diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara yang saat itu dipimpin Brigjen G Dwipayana yang juga staf kepresidenan Soeharto dan menelan biaya Rp800 juta.
 
Mengingat latar belakang produksinya, banyak yang menduga film tersebut ditujukan sebagai propaganda politik. Apalagi di era Presiden Soeharto, film tersebut menjadi tontonan wajib anak sekolah yang selalu ditayangkan di TVRI tiap 30 September malam.
 
Sejak Presiden Soeharto lengser pada 1998, film garapan Arifin C Noer tersebut berhenti ditayangkan TVRI. Hal ini terjadi setelah desakan masyarakat yang menganggap film tersebut tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya. 
 
Itulah hal-hal yang terjadi saat dan setelah peristiwa 30 September. Generasi muda penting untuk mengetahui sejarah agar bisa belajar terkait kesalahan masa lalu dan tidak diulang di masa mendatang. 
 
Baca juga: Apa Itu Paham Komunis yang Dianut PKI? 

 
(REN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif