Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Warto. Dok Humas UNS.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Warto. Dok Humas UNS.

Mana yang Benar, Solo, Sala, atau Surakarta? Ini Penjelasan Guru Besar UNS

Arga sumantri • 17 Februari 2021 11:48
Surakarta: Masyarakat Kota Bengawan acapkali bingung membedakan nama/ sebutan Solo, Sala, dan Surakarta. Kerancuan ini tidak hanya dialami oleh masyarakat kota ini, tapi juga dialami oleh masyarakat di berbagai daerah.
 
Masyarakat ada yang menyebut Kota Bengawan dengan nama Solo atau Surakarta. Selain itu, dalam hal penulisan dan pelafalannya pun, ada yang suka menggunakan nama 'Solo' dan 'Sala'.
 
Lalu, manakah nama yang benar? Bagaimana sebetulnya cerita sejarah lahirnya nama Solo, Sala, dan Surakarta. Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Warto menerangkan sejarah di balik nama Solo dan Sala. 

Baca: Unpad Siapkan Program Kuliah Lapangan Virtual
 
Warto mengatakan, pada awalnya, nama yang benar adalah Sala. Alasannya, karena kota yang berada di tepi Sungai Bengawan Solo ini dulunya merupakan sebuah desa 'perdikan' yang bernama Desa Sala. Dahulu, desa ini dipimpin oleh seorang kiai bernama Ki Gede Sala atau biasa disebut juga Kiai Sala.
 
"Itu nama yang punya sejarah panjang. Jadi, Kota Solo yang sekarang kita kenal itu kan awalnya dari sebuah perpindahan kerajaan dari Kartosuro ke Surakarta (Desa Sala) tahun 1745," terang Prof Warto.
 
Lalu, seiring kedatangan orang-orang Belanda, penyebutan nama Sala yang semula menggunakan huruf 'a' berubah menjadi 'o', sehingga pelafalannya berubah menjadi Solo.
 
"Dengan huruf 'a'. Ingat huruf Jawa ‘o’ dan ‘a’ punya perbedaan yang sangat penting. Kalau Sala ditulis dengan huruf Jawa nglegena atau telanjang. Kalau di- taling-tarung jadi ‘o’ makanya So–lo gitu. Dan, alasannya Sala jadi Solo karena orang Belanda susah ngomong Sala," jelasnya.
 
Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah UNS ini menjelaskan Desa Sala yang awalnya merupakan desa perdikan, berubah menjadi pusat kerajaan dengan berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat. Pemilihan Desa Sala sebagai lokasi baru keraton didasarkan pada pertimbangan Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, dan J.A.B. van Hohendorff usai Keraton Kartasura hancur akibat Geger Pecinan.
 
Baca: Berminat Jadi Mahasiswa Baru UI? Ini Jalur dan jadwal Pendaftarannya
 
Dalam sejarahnya, Geger Pecinan terjadi akibat pemberontakan pada 1740 yang berhasil menghancurkan Keraton Kartasura. Walaupun Keraton Kartasura berhasil direbut kembali, namun Pakubuwana II yang kala itu masih berkuasa menganggap lokasi keraton sudah kehilangan 'kesuciannya' dan berinisiatif memindahkannya ke lokasi yang baru. Kemudian, terpilihlah Desa Sala sebagai lokasi baru keraton.
 
"Sala itu sebuah desa yang ditempati untuk Keraton Surakarta Hadiningrat dengan penguasanya Pakubuwana. Apa bedanya Sala dengan Surakarta? Kalau Surakarta adalah nama kerajaan sama dengan Keraton Kartosuro setelah pindah ke Desa Sala," tambahnya.
 
Seiring perjalanan waktu, Surakarta yang merupakan nama dari sebuah keraton ditetapkan menjadi nama resmi kota administratif. Sehingga, untuk nama resmi, penulisan yang benar adalah Kota Surakarta. Sedangkan, nama Solo atau Sala adalah penyebutan populer atau yang umum di masyarakat. "Perbedaan istilah tidak mengubah substansi, ya tetap sama," ujarnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AGA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA