Menristekdikti Bantah Kekang Kebebasan Mahasiswa
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
Jakarta: Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir membantah wacana pengawasan aktivitas digital (ponsel dan medsos) mahasiswa dan dosen mengekang sivitas akademika berekspresi. Menurutnya, ini satu-satunya cara untuk mengantisipasi penyebaran paham radikal.

“Kami bukan memberantas kebebasan. Kebebasan berjalan terus,” ucap Nasir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan. 


Kemenristekdikti tak membatasi mahasiswa berkarya di segala bidang. Namun, kewajiban universitas untuk mengawasi ketat setiap kegiatan mahasiswa agar tak menyimpang.

“Acara-acara yang lain apakah boleh yasilakan contoh kemarin ada salah satu mahasiswa dalam media mengatakan apakah tidak boleh mempelajari yang di luar itu,” ungkap Nasir.

Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro ini tak melarang mahasiswa belajar berbagai macam keilmuan dan paham politik. Namun harus tetap berada pada jalur yang berpegang teguh pada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

“Komunis silakan kalau itu dalam kajian akademik, tapi negara telah memilih sesuai konvensi yaitu Pancasila sebagai ideologi negara,ini yang penting,” katanya.

Justru dengan pemahaman keilmuan yang beragam membuat cara pandang mahasiswa meluas.

“Saya dulu juga belajar marxist dan teori komunis saya juga belajar teori sosialis saya juga belajar tapi apakah saya jadi komunis kan enggak, Ini akan kembali kepada aturan itu,” tutur Nasir.

 



(CEU)