Mahasiswa Kaji Ide Keagamaan Rawan Dicap Radikal
Diskusi Perspektif Indonesia bertema "Gerakan Radikal di Kampus?" Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
Jakarta: Pemerintah tidak bisa serta merta mengecap kegiatan yang berkaitan dengan kajian ide-ide keagamaan sebagai sebuah ajaran radikal.  Seharusnya pemerintah memiliki alat ukur, agar dapat membedakan mana ajaran radikal dan kajian ide-ide keagamaan.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Ali Munhanif menilai meski di lingkungan kampus terjadi fenomena kegiatan keagamaan mahasiswa, namun harus dicermati lebih jauh. Karena tidak semua aktivitas dan kajian agama yang dilakukan mahasiswa di kampus termasuk dalam radikalisme.


"Misalnya begini, potensi kekerasan yang tidak bisa dikatakan langsung radikal yang harus dicermati," kata Ali dalam diskusi Perspektif Indonesia bertema "Gerakan Radikal di Kampus?" di Kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu, 9 Juni 2018.

Dalam penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) justru mengungkapkan, mahasiswa yang berkecimpung di kegiatan keagamaan kampus memiliki komitmen kuat terhadap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).  "Hampir 68 persen mahasiswa yang mempunyai komitmen keagamaan yang baik punya komitmen NKRI," jelas Ali.

Menurut Ali, rilis BNPT terlalu responsif. BNPT seolah bergerak cepat memetakan peta-peta radikalisme setelah insiden bom di Surabaya.

"Mungkin saja dalam rangka menunjukkan kerja intelijen dan operasi yang selama ini dibutuhkan yang tertangkap adalah yang di kampus-kampus terjadi semacam kegiatan keagamaan yang bisa dianggap mengancam keamanan nasional," jelasnya.

 



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id