Langkah ini bukan sekadar rutinitas pembagian buku biasa. Pengiriman yang berangkat dari Kudus, Jawa Tengah, pada Jumat, 31 Juli 2026 ini menggunakan pendekatan intervensi terarah. Sasarannya difokuskan pada sekolah-sekolah yang berada di titik nadir atau masuk dalam kategori 1, yakni sekolah dengan kemampuan literasi jauh di bawah kompetensi minimum berdasarkan rapor Asesmen Nasional (AN) tahun 2025.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa akses terhadap bahan bacaan berkualitas adalah hak dasar setiap anak, sekaligus fondasi untuk mencetak generasi yang mampu berpikir kritis.
"Pencetakan dan pengiriman buku bermutu untuk para murid ini dilakukan untuk mempercepat peningkatan literasi anak, membangun budaya baca sejak dini, dan mendekatkan akses bahan bacaan berkualitas ke satuan pendidikan yang perlu diprioritaskan," tegas Abdul Mu'ti dalam sambutannya saat Peluncuran Pengiriman Buku Bermutu Gerakan Literasi Nasional 2026, di Kudus, Jawa tengah, Jumat, 31 Juli 2026.
.jpg)
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti. Foto: Medcom/Citra Larasati
Setara Dua Bulan Belajar
Sebanyak 5,5 juta eksemplar buku nonteks, mulai dari buku bergambar, komik, hingga novelet berukuran A4, A5, dan B5, akan disebar ke 18.444 SD dan 6.165 SMP. Masing-masing SD akan mendapat suntikan 200 eksemplar, sementara SMP menerima 300 eksemplar buku.Bukan sekadar tebak-tebakan, efektivitas buku bacaan ini telah teruji secara ilmiah. Kajian Pusat Standar Kebijakan Pendidikan (PSKP) tahun 2025 membedah bahwa sekolah yang menerima hibah buku serupa pada tahun 2022 mengalami lonjakan skor capaian literasi 1,1 poin lebih tinggi dari sekolah yang tidak menerima.
Hebatnya, angka ini ekuivalen dengan peningkatan kemampuan setara dua bulan masa belajar konvensional. Dari buku-buku ini, ekosistem literasi yang lebih hidup diharapkan bisa terbentuk. Siswa tak hanya dituntut membaca nyaring atau mandiri, tapi juga dipancing untuk menelaah secara kritis, menulis resensi, hingga mengekspresikan ulang cerita tersebut.
Baca Juga :
Despi dan Cahaya Literasi di Lereng Pasir Buncir
Target Tiba September 2026
Mengawal raksasa distribusi ini, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyatakan, pengiriman telah bermitra dengan pihak swasta guna mempercepat sampainya buku ke tangan siswa. Tercatat, lima provinsi dengan penerima terbanyak tahun ini adalah Sumatera Utara, Jawa Barat, Aceh, dan Nusa Tenggara Timur.Ia menggarisbawahi urgensi pemenuhan buku yang memang diprioritaskan untuk menjangkau titik-titik paling darurat literasi.
"Buku ini memang masih terbatas dan belum bisa menjawab kebutuhan para murid di semua sekolah. Oleh karena itu, pengiriman buku ini masih diprioritaskan pada sekolah dengan kategori 1 pada nilai AN literasi sekolah mereka," ujar Hafidz dalam laporannya.
Seluruh armada pengiriman yang diberangkatkan hari ini ditargetkan sudah merapat di puluhan ribu sekolah sasaran paling lambat pada 4 September 2026. Dengan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, 5,5 juta amunisi literasi ini diharapkan tak sekadar menjadi pajangan perpustakaan, melainkan mesin pencetak generasi cerdas, kritis, dan berdaya saing di masa depan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda