Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Effendy Ghazali.  Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Effendy Ghazali. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia

Tokoh Bangsa dan Ulama Mesti Terlibat Atasi Radikalisme

Pendidikan Radikalisme di Kampus
Intan Yunelia • 09 Juni 2018 14:22
Jakarta: Mengatasi paham radikalisme lingkungan kampus tidak bisa dengan cara represif membatasi aktivitas mahasiswa dan dosen. Radikalisme harus dilawan dengan pemahaman yang kontra dan melibatkan ulama dan tokoh bangsa.

"Itu bisa dilawan oleh kalau betul kita punya tokoh-tokoh bangsa bangsa yang luar biasa besar, ulama-ulama yang  berpengaruh yang ada di organisasi-organisasi ataupun mereka yang berakar di masyarakat kita," kata Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Effendy Ghazali dalam diskusi Perspektif Indonesia bertema "Gerakan Radikal di Kampus?" di Kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu, 9 Juni 2018.

Effendy turut menyayangkan tokoh-tokoh bangsa dan ulama yang selama ini kerap wara-wari di media tidak konsen terhadap isu ini. Padahal pengaruh dan ucapan mereka sangat ampuh dipercayai publik.  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Apakah mereka-mereka yang terus diekspos oleh televisi misalnya, atau oleh media, enggak punya pengaruh sama sekali,' jelas Effendy. Media adalah sarana ampuh untuk memengaruhi pola pikir masyarakat termasuk mahasiswa. Pasalnya, lewat media juga mahasiswa terpapar radikalisme.

Kebijakan pemerintah menetapkan tujuh kampus radikal dan mengawasi aktivitas dosen dan mahasiswa terkesan panik.  Kebijakan ini membuat jarak mental yang begitu besar, seolah semua mahasiswa harus dicurigai.

"Saya belum pernah dengar di negara lain di dunia yang seperti ini. Nah kita lihat nanti. Apakah itu tidak langsung membuat jarak tadi, atau bahkan diperlukan pendapat yang lain," ujarnya.

Effendy mempertanyakan metodologi penetapan kampus dianggap radikal. Begitu juga penetapan seseorang khatib atau mubaligh.  "Kesimpulan diskusi pagi ini terkesan sebagai sesuatu yang relatif 'panik'," pungkasnya.

 


(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi