Prototipe Mobil Formula Bertenaga Listrik karya Anargya ITS, ITS/Humas.
Prototipe Mobil Formula Bertenaga Listrik karya Anargya ITS, ITS/Humas.

Anargya, Tim Mobil Formula Listrik ITS

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 14 Maret 2019 06:09
Jakarta: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali melahirkan anak emas baru di bidang otomotif. Kali ini, lewat kreativitas dan kegigihan dua puluh enam mahasiswa ITS berbakat lahirlah sebuah tim mobil listrik yang bernama Anargya.
 
General Manager (GM) Anargya ITS, Naufal Nabil Pramono mengatakan, sebagai tim yang masih seumur jagung, Tim Anargya ITS telah melalui berbagai macam perjuangan agar mampu mencetak prestasi. Dibentuk sejak September 2018, Anargya ITS fokus membuat dan mengembangangkan mobil listrik di dunia balap.
 
Tim yang menjadi bagian dari Pusat Unggulan Iptek Sistem Kontrol Otomotif (PUI-SKO) ITS ini mengusung sebuah mobil balap formula yang bertenaga listrik. "Meski masih dalam proses produksi, namun dalam waktu dekat ini mobilnya akan siap untuk dikemudikan oleh seorang pengendaram" kata Naufal dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Rabu, 13 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, kelak mobil karya Anargya ITS ini digadang akan dilengkapi fitur self-driving (autonomous). Yakni sebuah sistem di mana mobil dapat merasakan lingkungan di sekitarnya dan mampu bergerak sendiri dengan sedikit bantuan manusia, bahkan tanpa bantuan sedikitpun.
 
Naufal yang akrab disapa Mono ini mengungkapkan, ide penggagasan tim ini bermula ketika ia sedang mengambil program singkat di Beijing Institute of Technology (BIT), Tiongkok. Setelah melakukan riset dan berkonsultasi dengan dosen, lanjutnya, mobil listrik yang ia bayangkan mempunyai prospek yang sangat baik.
 
“Di Indonesia belum ada tim pembuat mobil seperti ini, apalagi ada perlombaannya yang sangat bergengsi,” ujar mahasiswa angkatan 2017 ini.
 
Baca:Menhub Ingin Kembangkan Kapal Bambu Karya ITS
 
Melanjutkan cerita, mula-mula Mono menyampaikan gagasannya di hadapan Alief Wikart, Dosen Teknik Mesin tersebut kemudian meminta Mono untuk melanjutkan proyek lama yakni Carstenz dengan sebuah brand terbaru. “Tidak adanya regenerasi adalah penyebab utamanya,” ungkapnya.
 
Hingga tercetuslah nama Anargya yang dalam bahasa Sansekerta artinya tidak terbatas. Meskipun begitu, imbuh Mono, membuat mobil formula tanpa awak saat ini masih menjadi mimpi Anargya di masa depan. “Belum ada yang berani seperti ini lantaran rumit dan biaya pembuatannya juga sangat mahal, tapi kami yakin kelak pasti bisa,” sambung mahasiswa Teknik Mesin ini.
 
Mono bersama rekan-rekannya terus mencari bantuan mulai dari senior hingga mahasiswa departemen lain. Selepas itu, barulah Mono dan tim membentuk manajemen serta merancang visi misi tim yang bermarkas di Gedung Riset Mobil Listrik Nasional (Molina) ITS ini.
 
Untuk menghasilkan mobil formula bertenaga listrik, Anargya pun memproduksi komponennya sendiri. “Kami menghindari penggunaan komponen yang sudah jadi, motor, controller, dan lain-lain. Meskipun ada risiko gagal tapi akan kami coba terus,” ujar Mono.
 
Dari Molina, Anargya mendapatkan banyak literatur dan jurnal-jurnal daring. “Jadi kami yang masih baru pun dapat belajar,” tambahnya.
 
Sebagai tim baru di ITS, Mono mengakui bahwa mereka kekurangan sumber daya manusia yang cukup banyak. “Ingin meminta bantuan senior juga sulit lantaran mereka sudah sibuk dengan urusannya masing-masing,” sambung mahasiswa asal Jakarta ini.
 
Meskipun demikian, Anargya ITS tetap mendapatkan bimbingan dari Tim Molina lainnya yang sudah lebih dulu berdiri. Kesulitan lain yang dihadapi ialah dalam mendapatkan sponsor. Mereka harus mengumpulkan dana yang tidak sedikit guna sukses berkompetisi di Student Formula Japan tahun ini.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif