Ilustrasi. Foto: MI/Gino Hadi
Ilustrasi. Foto: MI/Gino Hadi

Hari Anak Nasional 2021

KPAI Ingatkan Pemerintah Perhatikan Pemenuhan Hak Anak 'Korban' Pandemi

Pendidikan kpai Hari Anak Nasional pandemi covid-19
Arga sumantri • 23 Juli 2021 19:50
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pemerintah daerah memastikan pemenuhan hak anak-anak yang menjadi 'korban' pandemi covid-19. Banyak anak-anak kehilangan orang tuanya yang meninggal karena terpapar covid-19.
 
Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakn, sejumlah hak anak yang harus diperhatikan seperti keberlangsungan hak atas pendidikannya, memastikan anak-anak tersebut dalam pengasuhan keluarga terdekat, hak kesehatan, dan sebagainya. 
 
Pengasuhan anak yang kehilangan orangtunya akibat covid-19, kata dia, juga harus dipastikan dilakukan oleh kerabat/keluarga besar mereka. Panti asuhan seharusnya menjadi pilihan terakhir. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penanganan ini tentu memerlukan kehadiran Negara serta dukungan APBN dan APBD demi kelangsungan hidup dan masa depan anak-anak yang masih di bawah umur," kata Retno melalui keterangan tertulis, Jumat, 23 Juli 2021.
 
Baca: Enam Catatan KPAI di Peringatan Hari Anak Nasional 2021
 
KPAI juga mendorong pemerintah pusat dan daerah melengkapi imunisasi dasar untuk balita dan anak-anak. Sebab, program imunisasi pada anak menurun selama pandemi, sehingga bisa memicu wabah lainnya. 
 
"Program pemerintah Indonesia dalam pembangunan kesehatan bukan masalah covid-19 saja, tapi program rutin lain terkait anak tidak boleh diabaikan," ungkapnya.
 
Selain itu, KPAI mendorong percepatan program vaksinasi anak usia 12-17 tahun, agar segera terbentuk kekebalan komunitas. Termasuk, kekebalan di lingkungan satuan pendidikan ketika pembelajaran tatap muka (PTM) digelar nantinya.
 
KPAI juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan beasiswa dan fasilitas belajar daring. Sehingga, anak-anak yang putus sekolah karena alasan ekonomi dapat dicegah.
 
"Di antaranya karena tidak mampu membayar SPP selama berbulan-bulan lamanya, tidak memiliki alat daring, terpaksa harus bekerja membantu orangtuanya, dan bahkan memutuskan menikah di usia anak," ungkapnya
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif