Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam. Dok Medcom
Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam. Dok Medcom

Bila Terbukti Gelar Profesor Palsu, Hadi Pranoto Terancam Dipenjara

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi Hadi Pranoto
Ilham Pratama Putra • 04 Agustus 2020 10:28
Jakarta: Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Nizam, mengingatkan, penggunaan gelar palsu dapat dijerat pidana. Ini merespons sorotan terhadap Hadi Pranoto, seseorang yang mengaku sebagai profesor dan pakar mikrobiologi, serta mengeklaim menemukan obat yang bisa menyembuhkan virus korona (covid-19).
 
"Untuk penggunaan gelar palsu ada sanksinya dalam UU (Undang-Undang) Dikti," kata Nizam kepada Medcom.id, Selasa, 4 Agustus 2020.
 
Nizam menjelaskan Pasal 69 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) mengatur sanksi bagi mereka yang kedapatan memalsukan gelar akademik. Bunyinya; Setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi yang terbukti palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500 juta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Nizam, setiap orang yang merasa dirugikan, bisa melakukan pelaporan ke polisi. Pihak polisi pun bisa memproses hukum Hadi.
 
"Sifatnya delik aduan, kalau ada yang mengadukan karena dirugikan, pihak yang berwajib dapat memproses secara hukum. Siapa saja bisa melakukan pengaduan," terang Nizam.
 
Nizam meminta masyarakat berhati-hati atas klaim yang dikeluarkan Hadi. Sebab, informasi yang kebenarannya masih dipertanyakan dari seseorang yang tidak jelas dapat membuat keresahan di masyarakat.
 
Baca:Obat Covid-19 Hadi Pranoto Tak Pernah Digunakan di Wisma Atlet
 
Hadi Pranoto mengeklaim telah menemukan obat herbal yang bisa menyembuhkan covid-19. Dia juga mengaku berlatarbelakang sebagai seorang profesor dan pakar mikrobiologi.
 
Hal ini diungkapkan Hadi ketika menjadi narasumber dalam konten YouTubeDunia Manji milik musisi Erdian Aji Prihartono (Anji). Video berisi dialog Anji dan Hadi pun menjadi perbincangan di lini masa hingga berujung penghapusan oleh pihak YouTube. Video diduga dihapus lantaran ramai dilaporkan warganet.
 
Belakangan, gelar profesor Hadi juga dipertanyakan. Sempat dikabarkan sebagai lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), namun ternyata hal itu dibantah oleh pihak IPB.
 
Keberadaanya sebagai pakar juga tak terdeteksi. Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset Nasional (Kemenristek/Brin) menyebut Hadi bukanlah peneliti di konsorsium dalam tim pengembangan herbal imunomodulator.
 
Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid, melaporkan Hadi dan Anji ke Polda Metro Jaya. Laporan teregistrasi dengan nomor LP/4538/VIII/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ bertanggal 3 Agustus 2020. Muannas menganggap keduanya melanggar Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juncto Pasal 45 huruf a Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif