Elfi Anis Saati, Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) UMM  menunjukkan beras analog untuk balita, UMM/Humas.
Elfi Anis Saati, Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) UMM menunjukkan beras analog untuk balita, UMM/Humas.

Beras Analog Karya Dosen UMM Bisa Cegah Stunting

Pendidikan Riset dan Penelitian
Daviq Umar Al Faruq • 23 November 2018 12:18
Malang:Tingginya jumlah penderita gizi buruk dan kurang gizi pada balita terus meningkat. Hal itu berdasarkan data yang dihimpun Pusat Data dan Informasi (PDI) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015.
 
Disebutkan, sebanyak 25 persen bayi hingga balita di Indonesia mengalamistuntingdan gangguan kesehatan lainnya akibat rendahnya kualitas gizi. Selain itu, PDI juga menunjukkan angka 30 persen balita di Indonesia mengalami Kurang Kalori Protein (KKP).
 
"Balita itu punya beberapa permasalahan pada masa pertumbuhan, salah satunya tentang KKP," tutur Elfi Anis Saati Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis, 22 November 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berangkat dari persoalan tersebut, Elfi berinovasi dengan beras analog tinggi protein. Ia berekspreimen dengan beras analog yang terbuat dari tepung tapioka, tepung kedelai, bayam hijau dan merah.
 
Diterangkan Elfi, beras analog yang ia buat kaya akan protein yang dihasilkan dari kacang-kacangan. Ia memilih kacang kedelai yang mudah dijumpai di sekitar.
 
"Beras analog ini mengandung tepung kedelai yang tinggi protein. Itu yang membuat beras ini tidak hanya mengandung karbohidrat," papar Elfi.
 
Menurut dosen yang aktif melakukan riset pada lingkup pigmen ini, beras analog yang diberi label Elviza ini memiliki keunggulan lain yaitu tingkat antioksidan yang tinggi.
 
Antioksidan, dijelaskan Elfi, merupakan senyawa yang dapat meningkatkan sistem imun dalam tubuh manusia. Hal tersebut sangat bermanfaat bagi balita pada masa pertumbuhan.
 
"Pigmen pada penelitian ini terbukti memiliki tingkat antioksidan yang sangat tinggi," imbuhnya.
 
Baca:Mahasiswa UMM Bikin Jam Pendeteksi Jantung
 
Sementara itu, pada beras analog, Elfi memilih pigmen yang terkandung pada sayuran. Sayuran dipilih karena banyak balita yang cenderung kurang mengkonsumsi sayuran.
 
Tak hanya itu, Elfi mengaku, beras analog ini tak hanya mengandung karbohidrat dan protein, namun juga kandungan sehat lain yang ada pada sayur. "Saya memilih bayam sebagai tambahan komposisi untuk memanfaatkan pigmen yang ada pada bayam itu sendiri," jelasnya.
 
Tak hanya berinovasi pada beras analog, sebelumnya Elfi juga telah bereksperimen dengan minuman antioksidan yang memanfaatkan pigmen dari bunga mawar. Antosianin dari bunga mawar diketahui dapat mencegah penyakit ginjal dan juga hati.
 
"Hasil penelitian itu sudah dipublikasikan pada jurnal Internasional dan telah dipatenkan," papar Elfi.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi