Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumbagut (Sumatra Barat, provinsi Riau, provinsi Sumatra Utara dan provinsi Aceh), Avicenia Darwis mengatakan, Migas Center ini sebagai bentuk kepedulian SKK Migas terhadap dunia pendidikan. Sehingga mahasiswa dapat menambah wawasan terhadap berlangsungnya aktivitas di industri migas.
Selain itu, kata Avicenia, ini akan mempermudah mahasiswa untuk menentukan pilihan dalam rencana karier ke depannya. Dengan ini, kata Avicenia, maka masyarakat ataupun oil and gas community betul-betul lahir.
"Dengan lahirnya suatu komunitas ini, kebutuhan dan keinginan mahasiswa terpetakan sehingga terstruktur dengan baik," kata Avicenia dalam siaran pers Humas Unand, Padang, Kamis, 14 November 2019.
Ia berharap, nantinya Pusat Migas ini akan disertai dengan kurikulum, bahkan menghadirkan pakar-pakar di industri migas. “Di samping itu, juga bisa mengadakan Focus Group Discussion (FGD) serta juga bisa mengadakan interaksi antar migas center, sehingga betul-betul fokus terhadap Sumber Daya Manusia menuju Indonesia maju,” ujarnya.
Rektor Universitas Andalas, Yuliandri mengatakan, di industri minyak dan gas tidak hanya orang-orang dari program studi perminyakan saja tetapi juga dari prodi-prodi lain seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Industri, Akuntansi dan Hukum.
“Migas Center ini juga dapat memberikan informasi mengenai perkembangan migas dan banyak hal lain yang bisa diketahui,” kata Yuliandri.
Selain di Unand, Migas Center juga akan dibangun di beberapa perguruan tinggi lain di Sumatra. Seperti Universitas Putra Batam, Universitas Riau (Unri), di Aceh pada akhir tahun ini, dan di awal tahun akan dibangun di Sumatera Utara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News