Dilansir dari laman The Conversation, Profesor Teknik Industri dan Sistem dari University of Iowa, Daniel V. McGehee, mengatakan perdebatan soal nilai pendanaan program gelar sarjana kini semakin intensif di berbagai legislatif negara bagian AS dan Kongres.
Meningkatnya popularitas gelar pascasarjana profesional selama beberapa dekade terakhir telah membentuk ulang ekonomi pendidikan tinggi. Program administrasi bisnis dan manajemen teknik yang mahal kini jadi andalan universitas karena pendapatan dari biaya kuliah jauh melebihi biaya pengajaran.
Program-program ini bahkan sering digambarkan sebagai gelar sapi perah bagi perguruan tinggi, karena pendapatan dari biaya kuliah jauh melebihi biaya pengajaran.
Namun, terdapat ketegangan tersembunyi, yakni kesenjangan melebar antara pelatihan teknis praktis dan pendidikan komprehensif yang mendorong mahasiswa bertanya, merefleksikan, dan berinovasi saat mereka belajar.
Lantas, apakah fokus pada program profesional mahal ini benar-benar menguntungkan? Simak penjelasannya!
Standar gaji bukan segalanya
Beberapa negara bagian termasuk Texas kini melacak data gaji lulusan untuk mengukur nilai pendidikan berdasarkan penghasilan jangka pendek. McGehee menilai pendekatan ini mengabaikan aspek penting dari nilai pendidikan tinggi.Menurutnya, sistem pendidikan tinggi yang sehat tidak hanya mengacu pada kemampuan menghasilkan lulusan yang dapat dipekerjakan, melainkan pada kemampuan menumbuhkan warga negara dan pemimpin yang mampu menafsirkan ketidakpastian, mempertanyakan asumsi, serta menghubungkan ide lintas disiplin.
Disiplin ilmu seperti sastra Inggris, filsafat, sejarah, dan bahasa dunia sebenarnya sangat berkontribusi pada kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan penalaran etis. Bahkan beberapa sekolah hukum kerap menarik mahasiswa terkuat dari latar belakang ini karena keterampilan analitis dan retoris yang mereka miliki.
Namun pada kenyataannya, mahasiswa saat ini justru semakin terjebak dalam pilihan yang sempit.
Mahasiswa yang masuk perguruan tinggi tengah menghadapi tekanan besar untuk memilih jurusan yang dianggap aman dan menjanjikan karier bergaji tinggi. Bagi calon dokter atau insinyur, jalur karier sudah diarahkan sejak awal melalui penjurusan ke ilmu fisika dan biologi.
Sebagian besar perguruan tinggi tidak memberikan ruang bagi calon mahasiswa kedokteran yang ingin mengambil jurusan sastra komparatif, atau bagi mahasiswa teknik yang ingin belajar filsafat. Persyaratan mata kuliah yang ketat membuat ruang eksplorasi mahasiswa menjadi sangat terbatas.
McGehee juga menjelaskan banyak mahasiswa akhirnya menukar rasa ingin tahu dengan kredensial karena percaya identitas profesional harus dibentuk lebih dulu dibandingkan dengan eksplorasi intelektual.
Sebagai seseorang yang memulai pendidikan dari psikologi sebelum beralih ke teknik, McGehee telah melihat bagaimana tradisi intelektual berbeda dapat saling melengkapi dalam menjawab pertanyaan yang sama. Dari pengamatannya, ada satu keterampilan krusial yang justru hilang dari pendidikan profesional saat ini.
Menurut McGehee, salah satu unsur terpenting yang sering diabaikan di lingkungan teknologi tinggi, medis, dan bisnis yakni inisiatif. Mahasiswa humaniora secara rutin mempraktikkan inisiatif dengan merumuskan pertanyaan, menafsirkan informasi tidak lengkap, dan menyusun argumen orisinal.
Keterampilan seperti ini sangat penting bagi inovasi ilmiah dan bisnis, tetapi sering tidak ditekankan dalam mata kuliah STEM yang sangat terstruktur. Karena itu, McGehee sengaja memberi instruksi kurang jelas kepada mahasiswa tekniknya untuk melatih kemampuan mengambil inisiatif.
Ia menilai banyak mahasiswa, bahkan yang sangat mampu, ragu untuk mengambil langkah pertama karena sistem pendidikan mereka lebih sering memberi penghargaan pada kehati-hatian dan kepatuhan dibandingkan dengan eksplorasi. Akibatnya, mereka cenderung menunggu kejelasan atau izin, bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena takut salah.
Lalu, bagaimana cara memperbaiki sistem pendidikan saat ini?
McGehee percaya perguruan tinggi harus memikirkan ulang makna kesuksesan. Universitas dapat memulai dengan memberikan penghargaan pada pengajaran lintas disiplin dalam kriteria promosi dan masa jabatan dosen.
Misalnya, sebuah tim di Driving Safety Research Institute University of Iowa yang memadukan teknik, kedokteran, kesehatan masyarakat, dan psikologi. Mahasiswa dapat belaja keselamatan kendaraan otomatis bukan hanya soal sistem teknis tetapi juga perilaku manusia.
Selain itu, Olin College of Engineering di Massachusetts bahkan mengembangkan setiap proyek berdasarkan kelayakan teknis dan konteks manusia. Mata kuliah diajarkan secara kolaboratif oleh profesor humaniora dan teknik. Mahasiswa diwajibkan menjelaskan bukan hanya apa yang mereka bangun, tetapi juga mengapa hal itu penting.
Ia juga menyakini pendidikan tinggi bukan menghasilkan pekerja seragam, tetapi pemikir yang mampu beradaptasi dalam segala hal. Saat mahasiswa mampu menghubungkan berbagai disiplin, mempertanyakan asumsi, dan bertindak dengan tujuan maka mereka akan siap tidak hanya untuk pekerjaan pekerjaan pertama melainkan sebagai pembelajaran sepanjang hayat mahasiswa. (Bramcov Stivens Situmeang)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id