Pernyataan ini disampaikan Menag saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-15 Jam'iyyah Hafidzotil Qur'an (JHQ) di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sabtu, 10 Januari 2026. Acara tersebut juga dimeriahkan dengan pengukuhan Pengurus JHQ Kendal dan dihadiri oleh ribuan hafizah (perempuan penghafal Al-Qur'an).
"Keberadaan lembaga tahfidz putri sangat krusial. Kami melihat kebutuhan mendesak akan kehadiran guru-guru tahfidz perempuan yang kompeten di berbagai daerah. Ini adalah peran strategis yang bisa diisi para hafizah untuk memperkuat pendidikan Al-Qur'an di Indonesia," jelas Menag dikutip dari laman Kemenag, Minggu, 11 Januari 2026.
Nasaruddin menyoroti peluang emas bagi para hafizah untuk berkiprah lebih luas di kancah nasional. Menurutnya, kebutuhan pesantren akan tenaga pengajar tahfidz perempuan membuka ladang amal dan profesional yang sangat dibutuhkan.
Potensi besar Kabupaten Kendal, dengan ribuan hafizah-nya, juga diapresiasi Menag sebagai aset Sumber Daya Manusia (SDM) yang strategis untuk pembangunan moral bangsa. "Ribuan hafizah berkumpul dalam satu forum adalah potensi besar yang harus kita berdayakan secara optimal," ujarnya.

Peringatan Hari Lahir ke-15 Jam'iyyah Hafidzotil Qur'an (JHQ) di Kendal. Foto: Kemenag
Nasaruddin berharap Pemerintah Kabupaten Kendal terus bersinergi dalam membina lembaga tahfidz. Ia juga mengimbau para hafizah untuk tidak berhenti pada hafalan tekstual semata.
"Tingkatkan terus kapasitas diri hingga mampu membumikan nilai-nilai Al-Qur'an di tengah masyarakat. Miliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai wujud pengamalan ajaran agama," pesan Menag. "Mencintai Al-Qur'an sejatinya juga berarti mencintai dan merawat alam semesta."
Dukungan terhadap pemberdayaan guru tahfidz perempuan ini diharapkan dapat menguatkan fondasi pendidikan agama dan menjawab kebutuhan nasional akan pendidik Al-Qur'an yang berkualitas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News