Sejumlah pelajar tengah memanfaatkan wifi untuk mengikuti pembelajaran secara daring di Komplek Permata Biru, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Foto: Antara/Bagus Ahmad Rizaldi
Sejumlah pelajar tengah memanfaatkan wifi untuk mengikuti pembelajaran secara daring di Komplek Permata Biru, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Foto: Antara/Bagus Ahmad Rizaldi

Seorang ASN di Bandung 'Sedekah' WiFi untuk Pelajar

Pendidikan Virus Korona Pembelajaran Daring
Antara • 30 Juli 2020 14:02
Bandung: Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), Lovita Rosa, melakukan gerakan sedekah WiFi untuk para pelajar yang kurang mampu dan terhambat dalam proses pembelajaran secara daring. Gerakan ini dilakukan di rumahnya, Kompleks Permata Biru, Cileunyi, Bandung, Jawa Barat.
 
"Inisiatifnya karena saya melihat warga di sini ada yang anaknya kesulitan untuk melakukan belajar secara daring. Katanya bingung beli kuotanya, lalu saya membuka rumah saya agar jaringan WiFi-nya dipakai," kata Lovita ditemui di kediamannya, Kamis, 30 Juli 2020.
 
Menurutnya, memberikan WiFi gratis untuk pelajar itu sudah dilakukan sejak awal tahun ajaran baru 2020/2021, beberapa waktu lalu. Selain kesulitan jaringan internet, ada warga di sekitarnya yang juga kekurangan gawai untuk digunakan. Setiap hari, ada empat sampai lima anak sekolah yang mendatangi rumahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengaku telah mengajak warga lainnya untuk melakukan gerakan serupa di rumah masing-masing bagi yang memiliki jaringan WiFi. "Saya juga minta kepada warga yang lainnya untuk sedekah wifi, karena banyak warga yang enggak mampu juga di sini akibat covid-19," ujarnya.
 
Baca:Nadiem Dengarkan Curhatan Guru Soal Pembelajaran Jarak Jauh
 
Sementara itu, seorang ibu dari anak yang menggunakan WiFi di rumah Lovita, Ida Aidah, 33, mengaku dirinya hanya memiliki satu gawai yang digunakan dua anaknya. Kedua anaknya tersebut kini duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
 
"Belajar daring ini sangat memberatkan, harus beli kuota, kalau WiFi kan enak, tapi saya kan tidak punya, terus anak ada dua yang sekolah," kata Ida.
 
Menurut Ida, pembelajaran daring menambah beban secara ekonomi. Sebab, selain membeli kuota, ia juga masih harus terus membayar iuran sekolah.
 
"Enggak ada diskon (iuran sekolah), cuma ada keringanan, bisa dicicil, tapi saya kira iurannya bisa dibayar hanya setengahnya," ucap Ida.
 

(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif