Alumnus UNS yang kini menjadi Kepala Disdikbud Jawa Tengahm Uswatun Hasanah. Foto: Dok. UNS
Alumnus UNS yang kini menjadi Kepala Disdikbud Jawa Tengahm Uswatun Hasanah. Foto: Dok. UNS

Pernah Ranking ke-33 di Kelas Kini Jadi Kepala Disdikbud Jawa Tengah

Pendidikan pendidikan kisah inspiratif jawa tengah UNS
Citra Larasati • 25 April 2022 20:33
Jakarta:  Uswatun Hasanah tumbuh menggeluti dunia pendidikan dan menulis secara bersamaan.  Kedua dunia itu juga yang kemudian membawanya pada tangga kesuksesan meski perjalanan masa kecilnya hidup dalam keterbatasan.
 
Sosoknya yang memandang pendidikan sebagai sebuah kewajiban, tumbuh menjadi pembelajar yang tekun dan piawai menangkap peluang. Kini, kariernya semakin cemerlang usai memperoleh amanah menjadi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah.  Uswatun Hasanah merupakan alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
 
Sebuah prestasi yang membanggakan bagi almamater. Posisi di mana ia berada saat ini sudah tentu melewati perjalanan yang panjang dan berliku.  Dikutip dari laman UNS, Uswatun menceritakan jejak pengalamannya hingga sekarang memetik manisnya hasil perjuangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Semuanya tidak lepas dari pengalaman saya saat masih kecil, masih remaja, didikan keluarga, apa yang saya dapatkan waktu kuliah S-1”, kata Uswatun dikutip dari laman UNS, Senin, 25 April 2022.
 
Semasa kecil, cara kakak-kakaknya berjuang mencapai kesuksesan menjadi inspirasi bagi Uswatun. Mereka turut memiliki peran dalam menemukan renjana dan cara belajar yang cocok bagi Uswatun kala itu. Sistem yang ia terapkan kala itu adalah fokus 1 jam sehari dalam belajar.
 
Hasilnya sungguh menakjubkan. Uswatun yang semula berada pada peringkat ke-33 di kelasnya semasa SMA, dapat lulus dengan Daftar Nilai Ebtanas Murni (Danem) tertinggi se-kabupaten. Inilah yang menjadi awal mula kesuksesan Uswatun.
 
Berasal dari keluarga yang sederhana, putri bungsu dari sebelas bersaudara ini tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk berkuliah. Peluang untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi ini ia manfaatkan sebaik-baiknya.
 
Uswatun menjatuhkan pilihannya untuk kuliah ke FKIP UNS. Mengambil Program Studi (Prodi) S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, ia bercerita jika ini menjadi tonggak awal kehidupan baginya kelak.

Bertahan di Tengah Keterbatasan 

Ia turut menceritakan asam garam semasa kuliahnya. Pengalaman menghemat uang makan, berbagi pakaian dengan kakak, tinggal di indekos dengan biaya sewa tujuh ribu perbulan pernah ia alami.
 
Namun, semua itu tak lantas membuatnya malu. Ia justru merasa bangga dan senang dapat melewati fase hidup yang cukup sulit.
 
“Yang paling berkesan adalah saat S-1, benar-benar menempa saya menjadi sosok pembelajar. Saya benar-benar diberikan kesempatan, dibuka peluang untuk belajar kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Ternyata pengalaman kuliah di S-1 justru menjadi tonggak awal saya fighter kehidupan saya selanjutnya sampai sekarang,” ujarnya.
 
Uswatun tumbuh menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi. Ia tergabung dalam Paduan Suara Mahasiswa (PSM) tingkat fakultas dan universitas, Himpunan Mahasiswa Prodi, hingga Teater Peron. Ia juga aktif menjadi pewara di berbagai acara, terutama saat wisuda.
 
Baginya, organisasi bukan tempat untuk mencari penghasilan, tapi sebagai wahana untuk menggembleng dirinya dengan berbagai pengalaman. Keterbatasan tidak membuat Uswatun Hasanah mengeluh atau putus asa. Justru semua itu malah memberikannya dorongan untuk terus bersemangat.
 
“Justru saya mendapatkan peluang dari keterbatasan. Andai saya tidak terbatas, mungkin saya tidak pandai menangkap peluang,” Kata Uswatun.

Karier Sebagai Guru

Studinya ia selesaikan selama empat tahun dan lulus pada 1998. Kariernya berlanjut dengan mendaftar sebagai guru wiyata bakti selama satu semester pada tahun 1999.
 
Ia kemudian lolos pada tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pertamanya pada 2001. Penempatan kala itu di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Sekolah tersebut terbilang dekat dari rumahnya, berjarak hanya 2 kilometer.
 
Uswatun semasa menjadi guru menunjukkan kinerja yang baik dan maksimal. Banyak kontribusi yang ia berikan. Salah satunya adalah menciptakan dan mengaransemen mars empat sekolah di Wonogiri serta Mars Adiwiyata Nasional.
 
Dalam hal kepenulisan, ia dikenal dengan nama pena Uus Abdullah. Dr. Uswatun juga menulis beberapa cerpen, seperti Belik Mbak Jinem, Ir, Kuli, serta kumpulan cerpen Rumah Cahaya. Ia juga menulis buku dan puisi.
 
Uswatun memberikan tips dan resep jitu dalam memulai menulis. Ia sebagai seorang yang pernah menjadi fasilitator literasi nasional dan sosialisator Program Literasi Nasional tahun 2021 membagikan beberapa hal.
 
Langkah pertama dalam memulainya adalah dengan menulis apa yang dipikirkan. Ia juga mengingatkan agar tidak terlalu banyak berpikir sehingga menjadi kesulitan.
 
“Apa yang kamu pikirkan, ya itu yang ditulis. Jangan berpikir tentang nanti ditertawakan, nanti kualitasnya (jelek). Tulis apa yang ingin kamu tulis. Mau jadi penulis yang pertama dilakukan jangan terlalu banyak berpikir, karena malah tidak akan ada pergerakan. Tulislah apa yang kamu pikirkan, maka itu nanti sudah memulai menulis,” ujarnya.
 
Prestasi turut ditorehkan pada beragam kompetisi. Uswatun meraih Juara 1 dalam Lomba Penulisan Artikel Kepustakaan Tingkat Provinsi tahun 2013, Juara 3 Lomba Solo Vokal Keroncong Tingkat Provinsi tahun 2012, Juara 1 Guru Berprestasi SMA Kabupaten Wonogiri tahun 2015, peringkat 7 Guru Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2015.
 
Kariernya yang semakin menanjak, pada tahun 2017, Uswatun mengembang amanah sebagai kepala sekolah hingga 2021. Kini, ia mengemban amanah baru sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.
 
Uswatun juga melanjutkan studi jenjang S-2 dan S-3 di UNS. Menurutnya, pendidikan jangan dijadikan sebuah pilihan. Pendidikan adalah sebuah kewajiban. Ia menjadikan ilmu sebagai bekal perjalanan hidupnya dalam menghadapi berbagai tantangan.
 
“Saya memiliki filosofi takutlah pada rasa takut itu sendiri karena rasa takut itu justru mendekatkan pada sebuah kegagalan. Tidak punya rasa takut bukan berarti terlalu berani. Yakinlah setiap ada kendala sudah diciptakan solusi. Tinggal kita pendekatannya seperti apa,” ujarnya. 
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif