Arief Budiman atau Soe Hok Djin. Foto: Antara
Arief Budiman atau Soe Hok Djin. Foto: Antara

Arief Budiman, Intelektual yang Jujur Pada Nurani

Muhammad Syahrul Ramadhan • 23 April 2020 18:18
Jakarta:  Arief Budiman atau Soe Hok Djin dikenang sebagai sosok intelektual yang jujur pada nuraninya. Kakak kandung Soe Hok Gie ini meninggal Kamis, 23 April 2020, di usia 79 tahun.
 
Aktivis HIV/AID Esthi Hudiono menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kepergian Arief hari ini.  Esthi yang juga mantan mahasiswa Arief di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, ini mengenang Arief sebagai sosok intelektual yang jujur pada nuraninya.
 
Menurut Esthi, sikap tersebut sangat jarang ia temui dalam lingkungan akademik yang sehari-hari ia temui. "Legacy-nya itu, dia adalah seorang intelektual yang jujur.  Jadi, jarang intelektual yang jujur pada nuraninya, dan beliau berani membayar harga atas kejujuran itu," tutur Esthi kepada Medcom.id, Jakarta, Kamis, 23 April 2020.

Esthi mengenang peristiwa 41 tahun lalu.  Pertama kali bertemu dengan Arief Budiman, persis ketika ia menjadi mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana.  Hubungan dengan Arief kala itu semakin intens, terutama ketika Esthi masuk ke pers mahasiswa.
 
Ia pun mengakui banyak terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Arief.  "Saya mahasiswa bimbingan konseling beliau dari studi Ekonomi Pembangunan. Waktu itu saya aktif di pers mahasiswa.  Sering bertemu dengan Arief Budiman dan menyerap pemikiran-pemikiran terkait sosialisme. Pengaruh paling besar itu terkait statement struktur lebih berkuasa daripada individu. Jadi, itu memang cara berpikir sosialisme," ujarnya.
 
Baca juga:  Arief Budiman, Kakak Soe Hok Gie Tutup Usia
 
Bahkan ia menuturkan, sempat dikonfrontasi terkait Arief Budiman.  Saat itu Arief merupakan aktivis yang lantang menyuarakan sosialisme, bahkan terus diawasi oleh intelijen.
 
"Saya  pernah berurusan dengan kejaksaan, ditanya-tanya apa hubunganmu dengan Arief Budiman.  Jadi dia dipantau oleh pemerintah karena takut suara kebenarannya mempengaruhi banyak orang dan dia tidak peduli, luar biasanya di situ," jelasnya.
 
Sosok muslim Tiognhoa ini, kata Esthi, memang memiliki misi untuk mengembalikan spirit Pancasila, yakni spirit sosialisme. Ia pun salut terhadap perjuangan kakak dari Soe Hok Gie ini.
 
"Dia laki-laki Tionghoa yang (kala itu) dikenal pengecut, tapi dia sangat berani dan mempengaruhi banyak orang.  Jejak langkah spiritnya itu yang harus kita ikuti karena orang seperti itu yang akan menyelamatkan Indonesia," ucapnya.
 
Esthi mengatakan sosok yang juga dikenali sebagai sosiolog ini sangat layak untuk menjadi suri teladan karena, selain buah pemikirannya yang kritis, juga daya juangnya ketika memperjuangkan kebenaran.
 
"Iya, dia pengaruhnya besar. Termasuk tokoh besar yang menumbangkan Orde Baru.  Reformasi masih berjalan dan harus setia dengan sikap-sikap besarnya itu. Kembali ke Gusdurian (pemikiran mantan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid), tugas kita masing-masing peduli kepada kehidupan sesama dan demokrasi," ungkapnya.
 
Kabar wafatnya Arief Budiman ini juga disampaikan rekan seperjuangannya, Ariel Heryanto dalam cuitannya di Twitter.  “Selamat jalan, kawan lama, dan rekan sejawat, Arief Budiman, Terima kasih atas apa yang telah engkau sumbangkan ke Indonesia," kata Ariel lewat akun Twitternya.
 
Arief mengisi masa mudanya sebagai aktivis juga seorang akademisi. Ia merupakan guru besar di  Universitas Melbourne, Australia.  Sebelumnya, ia juga sempat menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Semarang.
 
Direktur Biro Promosi, Humas, dan Alumni UKSW Salatiga Rini Kartika menambahkan sejak tahun 1994 Arief sudah tidak lagi menjadi dosen di UKSW. "Almarhum pindah ke Australia dan sempat mengajar dan menjadi guru besar di sana," terangnya.
 
Sosok Arief sendiri kata dia sangat melekat di UKSW. “Sangat menonjol, bahkan kalau kita ditanya dari UKSW, orang langsung mengidentikkan, 'Oh itu tempatnya Arief Budiman',” terang Rini, Kamis, 23 April 2020.
 
Arief Budiman, lahir di Jakarta, 3 Januari 1941. Ia dikenal sebagai seorang aktivis angkatan 66 bersama adiknya Soe Hok Gie saat masih menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Kemudian, ia mengambil kuliah lagi di Paris pada 1972 dan mendapat gelar Ph.D (doktor) dalam bidang sosiologi di Universitas Harvard.
 
Sekembalinya dari Harvard, Arief mengajar di UKSW pada 1985 hingga 1995. Usai itu, ia memutuskan untuk ke Australia dan mendapat tawaran mengajar hingga menjadi profesor di Universitas Melbourne.
 
Terkait kiprahnya di bidang politik, Arief merupakan salah satu tokoh yang bersikap sangat kritis terhadap pemerintahan Orde Baru.  Pada 1973 Arief menjadi salah satu pencetus gerakan golongan putih (golput) sebagai tandingan Partai Golongan Karya (Golkar) kala itu yang dianggap membelokkan cita-cita awal Orde Baru untuk menciptakan pemerintahan yang demokratis.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA