Pentas Ludruk Karya Budaya, di Lapangan Rembu, Kemlagi, Mojokerto. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Pentas Ludruk Karya Budaya, di Lapangan Rembu, Kemlagi, Mojokerto. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Konsistensi pada Pakem, Kunci Eksistensi Ludruk di Telatah 'Arek'

Pendidikan kebudayaan
Muhammad Syahrul Ramadhan • 19 November 2019 19:19
Mojokerto:Jatuh bangun. Sebab memang tak mudah, setengah abad bertahan menggaungkan kesenian asli 'telatah Arek', Jawa Timur ini. Meski tak lagi 'meng-karcis-kan' pentas mereka, panggung Ludruk masih mendapat tempat di hati masyarakat penikmatnya.
 
Cak Edy Karya, begitu ia akrab disapa, merupakan generasi kedua pemimpin Ludruk 'Karya Budaya' asal Mojokerto. Ludruk yang terbentuk pada 29 Mei 1965 ini didirikan olehCak Bantu Karya yang kemudian diwariskan kepada putranya,Eko Edy Susanto.
 
Karya Budaya berhasil bertahan selama 50 tahun, dan masih terus mendapat hati dari masyarakat Jawa Timur hingga saat ini. Ludruk Karya Budaya sendiri sudah sejak lama menjadi binaan Kepolisian Sektor (Polsek) Jetis Mojokerto, tempat Cak Bantu Karya bertugas sebagai 'anggota' di Polsek Jetis. Medcom.id pun berkesempatan untuk berbincang dengan Cak Edy Karya tentang 50 tahun eksistensi Ludruk Karya Budaya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ditemui di belakang panggung jelang pementasan, Cak Edy bercerita banyak soal bagaimana Karya Budaya tetap eksis selama 50 tahun ini. Ia menuturkan, dalam sejarahnya Ludruk merupakan kesenian asli Jawa Timur yang hadir di 'wilayah Arek' (meliputi Surabaya, Mojokerto, Blitar, Pasuruan, Sidoarjo, Gresik hingga Malang).
 
"Ludruk merupakan kesenian yang tumbuh di Jawa Timur, menjadi budaya asli wilayah Arek, tumbuh berkembang di sini," kata Edy saat ditemui di lapangan Rembu, Kemlagi, Mojokerto, Jumat malam, 15 November 2019.
 
Wilayah budaya Arek atau disebut dengan telatah (daerah) kebudayaan Arek merupakan salah satu dari telatah kebudayaan besar yang ada di Jawa Timur. Tiga telatah kebudayaan lainnya yakni Jawa Mataraman, Madura Pulau, dan Pandalungan.
 
Kesenian yang sudah ada sejak era Majapahit ini pun terus ia jaga. Cak Edy mengungkapkan, salah satu resep eksistensinya adalah konsistensi dalam menjaga pakem ludruk. Selain itu, tentu saja ditambah dengan upaya meningkatkan kualitas pemain.
 
"Sebenarnya menjaga kelestarian ludruk itu gampang. Ada pakemnya, itu dijaga. Kita juga rutin latihan untuk meningkatkan SDM pemainnya. Kalau SDM bagus, orang tertarik. Makanya kami sering sekali latihan," terang Cak Edy.
 
Pakem dalam ludruk itu sendiri menurut Edy ada empat. Pertama Tari Remo, sebagai pembukaan. Kedua, Bedhayan yaitu tarian ringan oleh beberapa travesti (sebutan untuk lelaki pemeran sosok perempuan di ludruk) yang dibawakan sembari melantunkan kidungan Jula-Juli, parikan (pantun) jenaka berbahasa Jawa khas Jawa Timur.
 
Ketiga, dagelan yang menyajikan kidungan, disusul oleh beberapa pelawak lain yang berdialog dengan materi humor. Kemudian pakem keempat, adalah lakon atau cerita yang merupakan inti dari pementasan itu sendiri.
 
Selain menjaga pakem dan meningkatkan SDM, peran masyarakat lokal yang masih gandrung terhadap ludruk juga turut menjaga eksistensi ludruk. Di era kekinian, ludruk banyak 'ditanggap' untuk menjadi hiburan dari sejumlah acara, utamanya hajatan.
 
Ludruk memang tak lagi mentas dan mengkarciskan pertunjukan mereka. Ludruk Karya Budaya ini memang terbilang laris, apalagi di bulan-bulan orang mengadakan hajatan yang biasanya mengacu pada bulan Jawa.
 
Cak Edy menyebut, dalam satu bulan ia bisa mendapatkan undangan pentas sampai 20 kali dalam. Namun pada bulan-bulan tertentu, ludruk juga memiliki musim sepi job. Yakni di bulan yang 'haram' bagi masyarakat untuk menggelar hajatan, seperti bulan Suro, Sapar, dan Poso.
 
"Karya Budaya kalau bulan-bulan ramai bisa sampai 20 kali pentas. Yang sepi itu Suro, Sapar, Poso, itu sepi enggak ada orang punya hajat. Nah bulan-bulan selain itu boleh, misalkan Agustus itu bahkan bisa sampai 25 kali manggung dalam sebulan," jelasnya.
 
"(Agustus) itu di samping hajatan, biasanya tanggapan terkait acara HUT Hari Ulang Tahun) RI juga suka mendatangkan Ludruk. Ada juga agenda budaya Sedekah Bumi atau Ruwatan Desa selalu datangkan ludruk," imbuhnya.
 
Pada malam itu, Jumat 15 November 2019 juga salah satunya. Ludruk Karya Budaya menghibur warga Mojokerto dengan menampilkan lakon Amukti Palapa atau Sumpah Palapa dari Mahapatih Gadjah Mada. Tribuana Tungga Dewi dalam pentas itu didapuk menjadi Mahapatih Gadjah Mada. Pementasan ini disutradarai oleh Seniman kondang, Kirun.
 
Konsistensi pada Pakem, Kunci Eksistensi Ludruk di Telatah 'Arek'
Pentas Ludruk Karya Budaya di Mojokerto. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
 
Pentas ludruk yang digelar di lapangan Rembu, Kemlagi, Mojokerto itu merupakan bagian dari agenda Chaitra Majapahit yang tahun ini diprakarsai oleh Indonesiana.
 
Chaitra Majapahit merupakan sebuah agenda pagelaran, sajian kesenian dan kebudayaan yang dilaksanakan oleh perkumpulan para insan seni dan pelaku budaya serta komunitas kesenian.
 
Kegiatan ini juga menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Mojokerto, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto serta Balai Pelestaraian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto.
 
"Semangat kegiatan Chaitra ini adalah bersama menjaga dan melestarikan seni, budaya dan nilai-nilai luhur Majapahit," kata Ketua Pelaksana Chaitra Majapahit, Diah Mahmawati.
 
Indonesiana dalam hal ini adalah pemrakarsa kerja bareng antara komunitas seni budaya dengan pemerintah dalam bidang kesenian dan kebudayaan. Indonesiana merupakan sebuah platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia, bertujuan membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang.
 
Indonesiana ini diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Indonesiana dikerjakan dengan semangat gotong royong dan melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan di Indonesia.
 
Terlebih lagi setelah disahkannya UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, muncul kebutuhan untuk menangani kegiatan budaya secara lebih sistematis. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kemendikbud merancang sebuah inisiatif baru, yaitu kegiatan pengembangan platform Indonesiana.
 
"Sebuah struktur hubungan terpola antarpenyelenggara kegiatan budaya di Indonesia yang dibangun secara gotong-royong," tutur Diah.
 
Pada tahun 2019, Indonesiana telah memberikan dukungan untuk 19 festival seni budaya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Melibatkan pemerintah daerah, komunitas, pusat kebudayaan/kedutaan asing serta swasta dalam berbagai bentuk kolaborasi, salah satunya adalah pentas ludruk Karya Budaya yang manggung di tengah para penikmatnya malam itu.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif