Iva Ariani salah satunya, Dosen Filsafat Wayang, Fakultas Filsafat UGM.  Foto:  UGM/Dok. Pribadi
Iva Ariani salah satunya, Dosen Filsafat Wayang, Fakultas Filsafat UGM. Foto: UGM/Dok. Pribadi

Mahasiswa Lama Tak Bimbingan Skripsi, Dosen UGM Kirim Pesan 'Kangen'

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 16 Oktober 2019 17:40
Jakarta: Skripsi menjadi tugas akhir yang harus dirampungkan mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Tidak hanya membutuhkan kesiapan akademik, namun juga fisik dan mental dalam mengerjakan skripsi, agar lancar dan tidak membuat stres.
 
Banyak cerita yang menghiasi perjalanan tuntasnya sebuah skripsi. Mulai dari sulitnya mencari data, tantangan melawan malas, hingga kisah tak terlupakan saat mendapatkan dosen pembimbing 'killer' seolah sudah melekat pada diri para pejuang skripsi. Cerita menarik tak hanya datang dari mahasiswa, melainkan juga dosen pembimbing.
 
Iva Ariani salah satunya, Dosen Filsafat Wayang, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Iva yang dikenal sebagai dosen gaul di kalangan mahasiswanya ini memiliki aturan main jika membimbing skripsi mahasiswa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Agar berjalan lancar Iva menyodorkan sejumlah poin untuk disepakati mahasiswa bimbingannya sebelum proses panjang itu dimulai. "Saat maju menyampaikan mau bimbingan dengan, saya buat perjanjian. Enggak mau berlama-lama, enggak pernah bimbingan, dan minta bimbingan tiba-tiba di akhir waktu yang mendesak, ditambah lagi minta tanda-tangan pengesahan. Jadi ada perjanjian dari awal," kata Iva saat dihubungiMedcom.id, Rabu, 16 Oktober 2019.
 
Dosen yang populer di kalangan mahasiswa UGM ini juga memberi kemudahan untuk mahasiswanya. Proses bimbingan bisa dilakukan melalui surat elektronik ataupun aplikasi messenger.
 
"Bimbingan bisa dilakukan dengan WA (Whatsapp) atau mengirim e-mail, selain janjian," ujarnya.
 
Selain itu, ia juga tetap memantau mahasiswa bimbingannya meskipun "gaib" alias lama menghilang. "Kalau ada mahasiswa yang lama hilang saya pasti akan WA sambil bilang "kapan ketemuan? saya sudah kangen" kelakarnya.
 
Momen yang paling mengesalkan saat menjadi dosen pembimbing diakui Iva adalah ketika mahasiswa tiba-tiba muncul di batas akhir waktu pengerjaan skripsi. Sebab, membuat jebolan UGM ini harus bekerja ekstra.
 
"Awal-awal bimbingan santai hilang tidak tahu ke mana, dan tiba-tiba dua bulan menjelang batas akhir memaksa saya lembur baca skripsi, karena sudah batas akhir jadi harus segera selesai," ungkapnya kesal.
 
Ia juga mengaku pernah melepas atau tidak melanjutkan skripsi mahasiswa bimbingannya lantaran tidak selesai pada batas akhir yang ditentukan. "Pernah juga ada mahasiswa saya yang lepas enggak bisa selesai, ya karena di akhir batas langsung bawa setumpuk tulisan, plus kertas pengesahan," ujarnya.
 
Lebih lanjut, soal coretan pada skripsi setiap kali melakukan bimbingan, perempuan kelahiran Yogyakarta ini mengatakan itu sangat wajar. Bahkan mahasiswa harusnya sangat bersyukur, karena bisa jadi itu merupakan bukti skripsi mahasiswa dibaca oleh dosen.
 
Coretan tersebut lanjut Iva, akan sangat membantu mahasiswa untuk mengerjakan skripsinya. "Lah kalau bimbingan kok enggak ada coretan malah sedih dong. Karena artinya enggak dibaca sama dosennya dan berat beban saat ujian akhir nanti," kata Iva.
 
Salah satu perintis mata kuliah Filsafat Wayang ini membagikan tips kepada mahasiswa agar dapat memaknai coretan yang menghiasi lembar skripsi mereka menjadi sesuatu yang positif.
 
"Jadi hadapi coretan-coretan dengan bahagia, karena artinya dosen telah membantu kita menyelesaikan skripsi," terangnya.
 
Setelah itu, jangan lupa untuk melakukan pemetaan poin-poin yang ada coretan ataupun catatan dari dosen. Kemudian dikerjakan setahap demi setahap.
 
Namun, yang umum terjadi mahasiswa tidak bisa mengatur diri. Hal tersebut terjadi lantaran saat penulisan mahasiswa tidak memiliki jadwal pasti. "Jadi mau selesai dua semester atau dua tahun ya tergantung mahasiswa," ujarnya.
 
"Saya suka sedih kalau ada mahasiswa sampai stres gara-gara nulis tugas akhir," imbuhnya.
 
Sementara itu, dua hari terakhir jagat dunia maya ramai dengan sosok Sony Kusumasondjaja khususnya di kalangan para pengguna jejaring sosial. Dosen di Universitas Airlangga ini menjadi viral di lini masa Twitter usai seorang mahasiswa bimbingannya mengunggah cuitan foto lembaran skripsinya yang penuh coretan Sony.
 
Tidak hanya mencoret satu lembar penuh tulisan itu dengan tanda silang, di bagian bawah kertas juga dibubuhi kata “Sampah”. Alhasil, akibat unggahan tersebut menuai komentar pedas warganet. Tindakan Sony sempat dianggap sebagai tindakan yang kurang tepat dan tidak terpuji.
 
Meski begitu, apa yang dilakukan Sony justru tidak dikeluhkan oleh mahasiswanya atau bahkan sampai membuat benci. Mahasiswanya pun ikut membela Sony ketika dosen pembimbingnya itu diserang warganet.
 
Masih dalam cuitannya, diketahui Sony juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa bimbingannya. Bahkan ia mengajak ketiga belas mahasiswanya jalan-jalan dan wisata kuliner ke kota Yogyakarta dan Solo.
 
Selain itu, ia juga selalu mengingatkan mahasiswa tenggat waktu mengerjakan skripsi melalui grup aplikasi messenger . Tak hanya itu, ia juga menggunakan aplikasi messenger untuk proses bimbingan yang bisa dilakukan lima hari dalam seminggu, Senin sampai Jumat hingga pukul 8 malam. Dalam unggahannya, grup tersebut dinamai 'Revisi Tiada Akhir'.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif