Riyanto, Direktur Utama PT Waroeng Steak Indonesia. Foto: Dok. PT WSI
Riyanto, Direktur Utama PT Waroeng Steak Indonesia. Foto: Dok. PT WSI

Kisah Riyanto Nyambi di Warung Bakso Demi Biaya Sekolah, Kini Jadi Direktur Utama

Citra Larasati • 05 Juli 2022 06:00
Jakarta:  Riyanto, pria asal Wonogiri, Jawa Tengah tak pernah menyangka jalan hidup yang mengantarkannya pada sebuah jabatan Direktur Utama Waroeng Steak and Shake.  Namun usaha memang tak mengkhianati hasil, Riyanto, si pekerja keras dan tak malu melakukan pekerjaan halal apapun demi membayar uang sekolah ini memiliki kisah hidup yang inspiratif.
 
Jujur, amanah dan terus belajar, menjadi pegangan hidup Rinto sapaan akrabnya. Anak kampung yang dulunya hanya tukang cuci hotplate di Waroeng Steak and Shake, kini telah mengemban amanah sebagai Direktur Utama PT Waroeng Steak Indonesia. 
 
Jalan terjal dan berliku bagi Rinto untuk sampai di titik ini, menjadi pemimpin perusahaan yang kini telah memiliki ratusan cabang itu. “Saya memiliki tiga prinsip dalam hidup yang saya pegang sampai detik ini. Prinsip jujur, amanah, dan terus belajar,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 5 Juli 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rinto tumbuh di tengah keluarga sederhana.  Kondisi ekonomi yang serba terbatas mendorongnya untuk ikut turun tangan membantu kedua orang tuanya mencari nafkah.  
 
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Rinto harus ditinggal kedua orang tuanya yang mencari nafkah di kota Solo. Bersama neneknya di kampung, ia belajar hidup mandiri. Bahkan dirinya ikut membantu pekerjaan tani sang nenek. 
 
Saat di bangku SMA pun, Rinto mencari pekerjaan paruh waktu sebagai part timer di warung bakso kaki lima yang terletak di pasar dekat sekolahnya untuk menambah uang saku.  Ia juga pernah menjadi figuran sinetron Wiro Sableng yang kebetulan mengambil lokasi syuting di daerahnya.
 
Semua ia lakukan demi mendapat uang saku tambahan untuk membantu orang tuanya membayar uang sekolah.  Namun pekerjaan sampingan yang dilakoninya sambil bersekolah  ini tak pernah ceritakan kepada orang tuanya.
 
Bagi Rinto, selama yang ia kerjakan adalah halal dan tidak merugikan orang lain maka ia lakukan dengan semangat dan totalitas.  Sejak SMA pun Rinto sadar betul bahwa orang tuanya tidak akan mampu untuk membiayai kuliahnya, meski kala itu keinginan untuk melanjutkan kuliah sangat menggebu.
 
Impian kuliah pun tak pernah padam. Dengan tekad untuk terus belajar mengembangkan potensi diri meski tidak melalui pendidikan formal.  Ia mulai rajin membaca buku–buku tentang kiat usaha dan kisah sukses pengusaha.
 
Semua buku yang dibaca menjadi motivasi hidupnya untuk bekerja. Rinto bahkan punya mimpi suatu waktu nanti dirinya bisa sukses dengan bekerja.
 
"Apalagi di perusahaan yang pemiliknya mempunyai visi bisnis sukses dunia akhirat," kata Rinto.

Sukses Pimpin Ratusan Cabang 

Rinto pun kini mengucap banyak syukur, sebab mimpi tersebut sudah terwujud.  Dengan perjalanan yang tidak instan, Rinto kini menjabat sebagai Direktur Utama PT. Waroeng Steak Indonesia.
 
Amanah itu telah diemban sejak awal 2022. Dia bangga dapat mengembangkan perusahaan yang bergerak di bidang food and beverage itu.
 
“Perjuangan yang saya tempuh dari bawah tidaklah mudah. Selain perlu waktu yang panjang, untuk mencapai kesuksesan juga butuh keikhlasan. Masuk sebagai staf outlet bertugas mencuci hotplate pada tahun 2000,” katanya. 
 
Dari itu, ia terus menekuni dan terus belajar menguasai bidang lain seperti waiters, kasir, cooking membuatnya dipercaya menjadi supervisor pada 2002 dan diberi amanah menjadi Manajer operasional kota Semarang dengan membuka tiga outlet dalam tempo satu tahun dan sukses,” imbuhnya.
 
Kepercayaan terhadap Rinto dari pimpinan terus tumbuh. Bahkan dalam waktu singkat, dia kembali dipercaya untuk mengembangkan Waroeng Steak and Shake di Jakarta dan Medan.
 
Setelah 14 tahun berada di divisi operasional, pada 2014 Rinto mulai masuk dalam jajaran top manajemen. Dia mendapat tugas baru di divisi litbang.
 
Lalu pada 2016 Rinto diminta kembali untuk menangani divisi operasional regional DIY Jateng, Jatim, Bali dan Makassar. Restrukturisasi kembali terjadi, dan pada awal 2020, pemilik  memutuskan Waroeng Steak and Shake menjadi badan usaha.
 
“Berbentuk PT dan Alhamdulillah, saya diberi amanah dan tanggungjawab yang lebih besar lagi menjadi direktur. Saya mencapai titik di mana saat ini merupakan buah hasil dari Dream, Pray dan Action (Ikthiar) saya,” ujar laki-laki yang suka dengan klub bola Chelsea ini.
 
Namun ada hal lain yang membuat ia merasa lebih bersyukur.  Sebab di mana perusahaan tempatnya bekerja ini selalu mengedepankan sisi spiritual leadership kepada semua karyawannya.
 
"Perusahaan menciptakan sebuah budaya dengan program spiritual company, di mana semua pekerjaan diniatkan untuk ibadah sehingga hasil yang kita dapatkan adalah keberkahan,” ujar Rinto. 
 
Waroeng Steak and Shake kini menjajaki usia 22 tahun. Sebagai brand lokal, restoran steak asli Indonesia ini terus tumbuh di tengah ketatnya persaingan dalam dunia kuliner. Terutama dengan merek-merek dari luar negeri yang banyak masuk. 
 
Bahkan perusahaan yang kini dipimpinnya telah menjadi role model bagi banyak pelaku UMKM di Tanah Air. Terutama dalam penerapan program spiritual company.
 
Salah satu program dari spiritual company untuk meningkatkan leadership karyawan dari sisi spiritual. Program ini telah dijalankan sejak 2010 silam.  Program-program yang dijalankan seperti salat wajib berjamaah, sholat sunnah dhuha dan membaca Al-qur'an sebelum bekerja, pelajaran tahsin per pekan, hafalan surat pilihan (Al-Mulk, Yasin, Ar-Rahman dan Al-Waqiah) sebagai syarat undian umroh untuk karyawan serta kegiatan pengajian bersama masyarakat sekitar. 
 
Baca juga:  Kisah Rizal, Anak Buruh yang Jadi Mahasiswa Berprestasi UNY
 

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif