Bagi Pramono, ilmu budaya dan sastra adalah ilmu yang luwes. Bahkan, keilmuannya tersebut mampu menjadi penopang dan sangat relevan dengan karier yang digelutinya di insustri pers saat ini. Sebab bagi Pramonon, memahami bahasa tak sekadar soal tata bahasa, melainkan soal rasa, diksi, dan kemampuan bercerita (storytelling).
“Memahami sastra dengan segala kekayaan gaya bahasa dan diksi tentunya sangat bermanfaat bagi industri yang mengutamakan interaksi dengan orang lain, termasuk industri pers,” ujarnya dikutip dari laman Unair, Rabu, 22 April 2026.
Membangun Karier Jurnalistik di Pers Kampus
Kesuksesan Pramono tidak datang secara instan. Pada tahun 1997, ia sudah merancang road map kariernya dengan aktif di organisasi pers kampus, Suara Airlangga. Baginya, jurnalisme adalah disiplin ilmu yang bersifat open source, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang jurusan.“Saya memulainya dengan mengikuti pelatihan jurnalistik di media besar seperti Jawa Pos dan Kompas saat masih mahasiswa. Jadi, jalurnya memang sudah saya bangun sejak dini,” tambahnya.
Sebagai pemangku program tertinggi (Executive Producer), Pramono memegang tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan antara idealisme jurnalisme dan kepentingan komersial. Ia menekankan bahwa selama sebuah media menyajikan fakta, maka prinsip jurnalisme tetap terjaga.
“Pilihan fakta atau durasi mungkin bisa dipengaruhi kebijakan media, tapi yang tidak boleh dilakukan adalah menyajikan berita bohong (fake news). Idealisme jurnalisme akan tetap melekat sampai kita menanggalkan profesi ini,” tegasnya.
Pramono memberikan pesan motivasi bagi mahasiswa FIB UNAIR yang mungkin merasa ragu dengan masa depan mereka di dunia kerja praktis. Ia menganalogikan mahasiswa berkualitas seperti “sebongkah emas”.
“Sebongkah emas akan selalu menjadi emas dan tetap bersinar, baik ditaruh di etalase mewah bersama emas yang lain, maupun ditaruh di baskom bersama kerikil,” ungkap Pramono
Ia mendorong mahasiswa untuk terus mengasah soft skill, terutama kemampuan komunikasi dan adaptasi teknologi digital. Di era sekarang, jurnalis dituntut menjadi multi-platform, mampu menjadi reporter sekaligus juru kamera dan presenter.
“Jangan memusingkan label akademik. Miliki daya dobrak dan daya saing agar kompetitif. Tentukan road map kalian, lalu mulailah menapaki anak tangga menuju kesuksesan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News