Naufal, dari Pedagang Jadi Pejuang Literasi

inten Suhartien 03 Januari 2018 21:19 WIB
anak-anakminat baca
Naufal, dari Pedagang Jadi Pejuang Literasi
Naufal, pencetus Pustaka Bulir Padi. (Foto: Medcom.id/Inten Suhartien).
Jakarta: Rendahnya minat baca anak membuat hati Naufal tergerak untuk meningkatkan literasi. Naufal merupakan aktivis literasi yang kini berkecimpung di Yayasan Bulir Padi (Bulir Padi), lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bertujuan untuk memberi akses pendidikan kepada anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Perjuangan Naufal untuk meningkatkan literasi karena miris melihat kondisi saat ini yang banyak buku, namun minat baca anak-anak semakin meluntur. Padahal, saat Naufal duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), buku merupakan barang mahal.


Sejak saat itu, rasa kepeduliannya untuk meningkatkan literasi baca anak-anak menguat meski bergerak dalam keterbatasan. Naufal akhirnya aktif di rumah singgah Gema Mandiri Bangsa untuk membantu anak-anak jalanan yang gagap pendidikan dan membaca.

Pascakerusuhan 1998, Naufal prihatin melihat anak-anak korban kerusuhan dan telantar di jalanan. Kejadian itu membuat Naufal berinisiatif menyebarkan buku hasil donasi rumah singgah Gema Mandiri Bangsa kepada anak-anak jalanan.

"Jadi, modal saya hanya buku dan permen. Anak-anak (jalanan) itu langsung berkumpul untuk mengambil permen dan buku yang saya bagikan," kenang Naufal saat berbincang dengan Medcom.id.

Dari situ, Naufal aktif membagikan buku kepada anak-anak jalanan. Berbekal ransel yang penuh buku, Naufal membagikan buku kepada anak-anak jalanan di sekitar Grogol, Jakarta Barat. Dia aktif membagikan buku sejak 1998 hingga 2003.

Usaha Naufal bukan tanpa rintangan saat berupaya meningkatkan literasi baca anak jalanan. Kegiatan ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, ia tak putus asa hingga akhirnya ia bergabung dengan Bulir Padi pada 2003.

"Saya menyadari susahnya untuk menarik anak jalanan kembali peduli dengan buku apalagi pendidikan. Maka dari itu perpustakaan ini ada dengan tujuan untuk mencegah anak-anak rumah untuk turun ke jalanan dengan kegiatan positif yaitu membaca," tuturnya.

Di Bulir Padi, dia bekerja sama dengan beberapa kampus untuk mengadakan kegiatan menarik minat masyarakat kepada perpustakaan. Dari situ, tercetuslah ide untuk membangun perpustakaan umum bernama Pustaka Bulir Padi untuk meningkatkan minat baca.

Pustaka Bulir Padi masih di bawah naungan Yayasan Bulir Padi. Kini Pustaka Bulir Padi ada di Palmerah, Jakarta Barat, dan Bidaracina, Jakarta Timur.

Salah satu pengunjung Pustaka Bulir Padi Palmerah, Maulidina mengakui keberadaan perpustakaan tersebut membantunya mendalami pelajaran. Apalagi siswi kelas 6 SD Negeri 25 Palmerah Pagi itu tengah mempersiapkan diri dalam menghadapi Ujian Nasional.

Tak hanya buku ajar yang tersedia di Pustaka Bulir Padi. "Biasanya suka pinjam buku pelajaran dan buku cerita," ujar Maulidina.

Meminjam buku di Pustaka Bulir Padi tidak dikenai biaya. Jangka waktu peminjamannya selama dua hari. Ketika masa ujian sekolah, waktu peminjaman buku diperpanjang menjadi satu minggu.



(HUS)