Kisah Inspiratif Guru Honorer

Memanfaatkan Kambing yang Menyelonong ke Dalam Kelas

Intan Yunelia 14 September 2018 09:07 WIB
kemampuan literasi
Memanfaatkan Kambing yang Menyelonong ke Dalam Kelas
Guru SD Pogo Tena, Heronima Gole Rere yang menggunakan kambing sebagai media belajar, Medcom.id/Intan Yunelia.
Jakarta:  Lokasi sekolah yang berada di pedalaman hutan, menyebabkan proses belajar mengajar di Sekolah Dasar (SD) Pogo Tena, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) sering terganggu binatang ternak.  Menjadi pemandangan sehari-hari, ketika hewan ternak warga seperti kambing tiba-tiba masuk, saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di dalam kelas tengah berlangsung.

"Di sekolah kami. binatang atau hewan ternak berkeliaran di lingkungan sekolah. Paling sering itu kambing, sampai masuk ke dalam kelas saat KBM berjalan. Jadi menganggu sekali," ujar Guru SD Pogo Tena, Heronima Gole Rere, ditemui saat menghadiri Pembukaan program Inovasi (Inovasi untuk Anak Indonesia), di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Kamis 13 September 2018.


Gangguan ini ternyata memberi dampak yang cukup serius bagi prestasi belajar siswa.  Suasana di dalam kelas tidak hanya gaduh, namun juga membuat siswa tidak fokus belajar, akibatnya sebagian besar siswa di SD Pogo Tena sering mengalami tinggal kelas.

"Dari kelas 1 hingga kelas 6 SD,  jumlah siswanya 93 orang, sebagian besar memiliki kemampuan calistung yang rendah.  Akibatnya, kebanyakan siswa di tempat kami merupakan siswa yang tinggal kelas," ungkap Heronima.

Lebih parah lagi, ketidakmampuan calistung ini tidak hanya menjadi dominasi siswa kelas awal, namun juga hingga siswa kelas 6. 

Gangguan binatang ternak dan proses belajar mengajar yang selama ini pasif, kemudian menantang Heronima untuk berpikir keras.  Bagaimana agar siswa di sekolahnya lebih fokus dan aktif belajar. Tujuannya, agar angka tinggal kelas yang tinggi tersebut dapat ditekan.

Heronima yang berstatus sebagai guru honorer di SD tersebut pun bergabung menjadi peserta program rintisan guru BAIK (Belajar, Aspiratif, Inklusif, dan Kontekstual), yang dilaksanakan oleh program Inovasi (Inovasi untuk Anak Indonesia).

Inovasi merupakan program kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia.  Program ini difokuskan untuk meningkatkan mutu pembelajaran pada bidang literasi, numerasi, dan inklusi di jenjang pendidikan dasar. 

Program ini bertujuan untuk mendapatkan cara terbaik dalam meningkatkan keterampilan calistung siswa yang sesuai dengan potensi lokal.   Ada beberapa pembaharuan yang digunakan guru mengajar di kelas, dan setiap sekolah memiliki metode pembelajaran yang berbeda-beda.

Melalui Inovasi, ia mendapatkan strategi khusus dalam memecahkan permasalahan pembelajaran siswa di sekolahnya, Hewan-hewan yang kerap mengganggu itu pun dimanfaatkan menjadi media belajar,, untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa.

"Setelah saya mengikuti program Inovasi, ternyata binatang yang berkeliaran di dalam kelas itu sangat berguna untuk dipakai sebagai media pembelajaran.  Model ini lebih cepat terserap, karena siswa sangat akrab dengan kondisi dan binatang ternak tersebut," terang Dia.

Baca: Program 'Inovasi' Akan Digulirkan ke Daerah Lain

Sebelum memulai pembelajaran, Heronima mempersiapkan media pendukung berupa kartu bergambar hewan. Kartu tersebut bergambar hewan ternak yang sering menghampiri sekolah mereka saat KBM.

"Jika hewan ternak datang, anak-anak diperbolehkan untuk bermain kurang lebih 10 hingga 15 menit. Setelah itu mereka diminta masuk kelas," ujar Heroni.

Ia pun menyusun strategi pembelajaran dengan menggunakan metode media sekitar.  Pada pertemuan pertama, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, sesuai dengan tingkat kemampuan membaca anak.  Kemudian guru dan siswa menyanyikan lagu, dengan gerakan sebelum memulai pembelajaran.

Siswa diminta menyebutkan nama-nama hewan yang ada di dalam lagu. Kemudian guru menempel gambar di papan, dan meminta siswa mengamati gambar, lalu menyebutkan nama hewan yang dipajang oleh guru tersebut.

"Guru mengajak siswa menirukan suara hewan yang sering didengarkan di luar kelas, sambil meminta siswa menuliskan nama hewan yang sudah diamati tersebut," terang Heronima.

Pada pertemuan berikutnya, guru kembali memajang gambar yang digunakan pada pertemuan pertama.  Lalu mengajak siswa mengamati lagi gambar hewan tersebut.  Pada tahap ini, siswa diminta menyebutkan nama hewan, serta seluruh bagian tubuh masing-masing hewan.

"Lalu kami meminta siswa mencari, menyebutkan, dan menuliskan perbedaan serta persamaan antara hewan-hewan ternak tersebut," ungkapnya. 

Hasil kerja siswa tersebut akan diperiksa oleh guru, jika ditemukan kesalahan, maka kawan satu kelompok yang pekerjaannya sudah betul harus membantu kawannya yang masih salah.  Siswa juga diberi kesempatan maju ke depan kelas, dan menjelaskan ciri-ciri masing hewan.

"Bagi anak yang masih malu-malu, guru justru memintanya untuk berdiri dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru dengan jelas dan lantang," terangnya.

Dari riset yang dilakukan oleh Heronima, sebelum dan sesudah metode pelajaran dipraktikkan, respons siswa sangat baik.  Bisa mencapai 98 persen menjadi fokus belajar. "Guru BAIK memberikan motivasi dan pengalaman bagi saya, untuk terus menerus mencari cara-cara yang lebih efektif dalam mengajar," pungkasnya.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id