Mahasiswa Indonesia Adjar Yusrandi Akbar yang berkuliah di Asia University Taiwan. Dok Pribadi.
Mahasiswa Indonesia Adjar Yusrandi Akbar yang berkuliah di Asia University Taiwan. Dok Pribadi.

Mahasiswa Indonesia Berbagi Kisah Suka Duka Berpuasa di Taiwan

Pendidikan Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi Ramadan 2021
Daviq Umar Al Faruq • 05 Mei 2021 12:29
Taiwan: Menjalankan ibadah puasa di negara lain, apalagi di tengah pandemi covid-19 menjadi pengalaman tersendiri bagi Adjar Yusrandi Akbar. Sebagai minoritas, mahasiswa Magister Asia University Taiwan ini merasa banyak hal yang biasanya mudah dijumpai di Tanah Air, namun berubah menjadi sangat sulit ditemukan.
 
Adjar menceritakan, tahun ini solat tarawih sudah boleh dilaksanakan di Taiwan, meski sejak tahun lalu pandemi masih melanda. Ia bersyukur karena tak perlu lagi melakukan perjalanan sejauh sepuluh kilometer untuk menjumpai masjid. 
 
Pasalnya, komunitas mahasiswa muslim di Asia University berhasil melobi kebijakan kampus untuk menyediakan tempat ibadah khusus bagi umat muslim.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Akhirnya salat tarawih diperbolehkan lagi setelah tahun lalu benar-benar dilarang. Kami juga sudah punya tempat ibadah sendiri. Sayangnya, aku masih belum boleh ikut karena masih berada di masa isolasi,” kata alumnus program studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
 
Baca: Hardiknas 2021, Ini Catatan Pemerhati Pendidikan dari UB
 
Walaupun ia dan kawan-kawannya telah mendapatkan kemudahan dalam mengakses tempat beribadah, Adjar yang tergabung di perkumpulan mahasiswa Asia University Muslim menceritakan bahwa mereka tetap mengalami kendala. Salah satunya kesulitan mencari makanan halal. 
 
"Tempat kami kan berada di distrik pinggiran, bukan pusat. Jadi lebih sulit cari makanan yang sesuai untuk kami yang notabene warga muslim," terangnya.
 
Bagi Adjar, puasa pertamanya di Taiwan saat ini tidak begitu berat. Selain karena saat ini sedang musim semi, pemerintah Taiwan sudah memperbolehkan kegiatan berkumpul. 
 
"Puasa di sini rasanya tidak begitu berat, sama seperti di Indonesia. Sama-sama 13 jam. Terus, di sini juga sudah boleh berkumpul walaupun masih harus pakai masker," kisah Adjar.
 
Adjar mengaku tidak bisa menghindari homesick karena harus jauh dari keluarganya. Namun, keberadaan komunitas mahasiswa muslim di Asia University sedikit banyak dapat menjadi pelipurnya untuk tetap menjalani aktivitas perkuliahan. 
 
"Homesick pasti masih ada ya, walaupun saat di UMM juga merantau. Tapi teman-teman muslim di sini sangat baik dan ramah. Jadi tidak merasa terlalu kesepian," ungkapnya.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif