Khairuddin saat memberikan workshop kepada para guru.  Foto:  Dokumentasi Pribadi
Khairuddin saat memberikan workshop kepada para guru. Foto: Dokumentasi Pribadi

Khairuddin, Menggerakkan Pendidikan Lewat 'Tol Langit'

Pendidikan hari guru nasional
Muhammad Syahrul Ramadhan • 25 November 2019 13:07
Jakarta: Menggelar seminar pendidikan maupun pelatihan guru tak lagi harus merogoh anggaran hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Cukup bermodal perangkat komputer, komputer jinjing, atau gawai yang tersambung internet, maka sajian pengetahuan dapat diakses dari mana saja dan hanya dalam satu kali klik.
 
Peningkatan kompetensi guru menjadi kunci suksesnya proses pembelajaran di kelas. Namun kerap kali guru sulit mengaksesn pelatihan ataupun seminar pendidikan karena minimanya anggaran sekolah, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat untuk menggelar kegiatan yang sangat penting tersebut.
 
Namun kini, dengan biaya minimalis bahkan gratis dapat berbuah hasil maksimal di tangan Khairuddin. Peserta pelatihan, diskusi, maupun seminar pendidikan dari berbagai daerah dapat terhubung dengan narasumber hanya dengan membuka gawai selebar telapak tangan, tanpa biaya hotel puluhan juta rupiah, tanpa perlu seremonial apalagi protokoler yang meribetkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Itulah misi yang diusung Sarasehan Dalam Jaringan Ikatan Guru Indonesia (SADAR IGI) yang lahir dari keresahan seorang guru SMA Negeri 1 Nurussalam Aceh Timur, Khairuddin. Selama ini guru-guru di Aceh Timur yang termasuk dalam daerah 3T (Tertinggal, Terluar dan Terpencil) mengalami kesulitan mendapatkan akses pelatihan guru-guru inspiratif.
 
"Kita di Aceh Timur motivasi belajar tinggi, tapi untuk mengundang teman-teman (guru, pakar pendidikan) itu menjadi kendala, ada keterbatasan dana dan sumber daya. Saya coba berpikir mengundang teman-teman dari luar tanpa biaya, kemudian coba kita atur menggunakan video conference," terang Khairuddin kepada Medcom.id, Minggu, 24 November 2019.
 
Khairuddin menceritakan, bagaimana SADAR IGI bisa lahir pada 30 November 2016 dan menjadi jawaban atas keresahannya selama ini. Berawal dari obrolannya dengan Gatot Hari Priowirjanto yang saat itu menjabat sebagai Direktur South East Asia of Minister Education Organization (SEAMEO) atau lembaga perkumpulan Menteri Pendidikan se Asia Tenggara, cikal bakal hadirnya seminar berkonsep video conference ini.
 
"Pak Gatot mengarahkan saya untuk berdiskusi dengan Umi Tira Lestari dari Bogor Jawa Barat, sebagai kepercayaan Pak Gatot mengelola Room Webex, platform untuk Video Conference dengan pembicara Chandra Sri Ubayanti dari Papua Barat," terang pria kelahiran Aceh Utara ini.
 
Tepat di 30 November itulah, SADAR IGI tayang perdana untuk guru-guru IGI di Kabupaten Aceh Timur. Namun di luar ekspektasi, ternyata metode pelatihan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) itu tak hanya berjalan di Aceh Timur, tapi hingga nasional.
 
"Teman-teman guru dari seluruh Indonesia kini sangat meminati dan SADAR IGI ramai digunakan," jelas Khairudin yang juga menjabat sebagai Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) ini.
 
Khairuddin, Menggerakkan Pendidikan Lewat 'Tol Langit'
Khairuddin saat memberikan workshop kepada para guru. Foto: Dokumentasi Pribadi
 
Sejak itu, kata Khairudin, SADAR IGI selalu menjadi santapan yang tak asing lagi bagi ribuan guru di seluruh Indonesia. Bahkan hingga kini SADAR IGI sudah mencapai 114 Episode dengan mengusungtagline'Tayangan Edukasi Menginspirasi Negeri'. SADAR IGI bisa disaksikan setiap Rabu Malam pukul 19.15 sampai dengan 21.15 WIB.
 
Khairuddin yang juga Founder Satu Guru Dua Evaluasi Digital (Sagu Delta) IGI ini menjelaskan, SADAR IGI menawarkan konsep seminar online melalui video conference. Seminar dan pelatihan pendidikan ini digelar tanpa penugasan bagi peserta yang mengikuti kegiatan.
 
Peserta juga tidak terikat dengan ketentuan khusus, termasuk tanpa sertifikat yang selama ini menjadi penarik minat bagi guru untuk mengikuti kegiatan. Orientasi guru gemar yang selama ini mengikuti kegiatan hanya karena sertifikat menjadi tabu bagi peserta di SADAR IGI.
 
"Seminar ini memberikan gagasan-gagasan baru dalam pembelajaran, bahan ajar, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan pendidikan karakter. Peserta yang hadir di SADAR bervariasi dengan rata-rata 50 sampai 350 peserta setiap minggunya," jelas pria 40 tahun ini.
 
Jebolan S2 Kepengawasan Pendidikan Universitas Negeri Medan ini mengatakan, dalam perjalanannya SADAR IGI terus bertransformasi. Mulai dari bahasan yang beragam, salah satunya bahasan media pembelajaran berbasis IT dan non IT, bahkan isu kekinian, seperti Augmented Reality dan Virtual Reality, evaluasi pembelajaran berbasis IT.
 
Selain itu, sistem ini juga membahas tentang motivasi pendidikan, pola pembinaan karakter siswa, kecerdasan emosional dalam pembelajaran, dan model-model pembelajaran atraktif yang memikat siswa dalam belajar. Sedangkan untuk pembicara, SADAR IGI mendatangkan narasumber dari berbagai kalangan baik guru inspiratif, Kepala Sekolah, Pengawas hingga pemerhati pendidikan yang concern untuk memberikan wawasan kepada guru Indonesia seperti Indra Charismadji dan Fidelis Wawuru.
 
Bahkan banyak dari pembicara SADAR IGI yang sebenarnya mereka bersedia tampil secara gratis dan nonsertifikat ingin kembali tampil di kegiatan ini. "Indra Charismiadji sudah sering tampil di Metro TV, kemudian Fidelis Wawuru itu banyak orang tahu kalau dia mengisi kegiatan dibayar mahal, tetapi di kita (SADAR IGI) mereka justru ingin ikut meski tanpa dibayar. Itu menarik karena kalau kita pelajari mereka tidak lagi berpikir apa yang mereka dapat, tetapi bagaimana bisa berbagi," Casio Master Teacher Indonesia ini.
 
Sampai saat ini, bahkan SADAR IGI sudah memiliki jadwal pembicara hingga Maret 2020. "Untuk selanjutnya seperti biasa kami break sejenak saat Bulan Ramadan," imbuhnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif